Archive

Posts Tagged ‘islam’

Ciri-ciri Ahlul Haq

(Pengikut Kebenaran)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

Ciri-ciri ahlul haq (pengikut kebenaran) ialah:

  • Tidak terkenal dengan nama tertentu di tengah-tengah manusia, yang nama tersebut menjadi simbol golongan tersebut.
  • Mereka tidak mengikat dirinya dengan satu amalan, sehingga dijuluki karena amalan tersebut, dan dikenal dengan amalan tersebut tanpa dikenal dengan amal lainnya. Ini merupakan penyakit dalam beribadah, yaitu ibadah yang terikat (ubudiyyah muqayyadah). Adapun ibadah yang mutlak (ubudiyyah muthlaqah) akan menjadikan pelakunya tidak dikenal dengan nama tertentu dari jenis-jenis ibadah yang dilakukannya. Ia akan memenuhi setiap panggilan ibadah apa pun bentuknya. Dia memiliki ‘saham’ bersama setiap kalangan ahli ibadah. Dia tidak terikat dengan model, isyarat, nama, pakaian, maupun cara-cara buatan. Baca selanjutnya…

Semua Mengaku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Siapa mereka yang Sesungguhnya?

Dewasa ini marak pengakuan dari berbagai pihak yang mengklaim dirinya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sehingga menyebabkan adanya kerancuan dan kebingungan dalam persepsi banyak orang tentang Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah itu ?

Baca selanjutnya…

Kategori:Ahlul Sunnah Tag:,

MEMBONGKAR KEBOHONGAN TERHADAP SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

[Studi Kritis Buku ‘Itiqad Ahlu Sunnah Wal-Jamaah” Oleh KH Sirajuddin Abbas]

Oleh
Abu Ubaidah Al-Atsariy

 

Siapa tidak mengenal nama lbnu Taimiyyah, seorang tokoh ulama yang telah berjuang untuk Islam dengan lidah dan pedangnya. Keharuman namanya semerbak dikenang generasi selanjutnya. Hampir-hampir sejarah Islam tidak pernah melupakan nama beliau sekaligus karangan-karangannya yang menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Semua kalangan mengakui keilmuan beliau, baik kawan maupun lawan. Hal itu tidak lain kecuali disebabkan kecerdasan dan keenceran otaknya, keluasan ilmunya, kejeliannya dan kehebatannya, sehingga beliau mampu mengungguli para pembesar ulama lainnya. ini semua tidak dapat dipungkiri kecuali oleh segelintir manusia yang bodoh dan jahil. Mereka tidaklah berdiri di atas hujjah, melainkan hanya kerancuan, yang mereka sendiripun tidak mengetahui isi dan maksud perkataan mereka. Tetapi yang penting, mereka sebarkan dan tebarkan begitu saja dengan kejahilan dan kesesatan yang keterlaluan. Sungguh mereka amat jauh dari ilmu dan keadilan [1]

Memang sebagal tokoh ulama sepertinya sangatlah wajar bila mendapatkan tuduhan dan celaan, sebagaimana panutannya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tabah menerima berbagai celaan di dalam menegakkan al-haq.

Syaikh Masyhur bin Hasan Salman mengatakan: “Para pencela Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah sangat banyak sekali. Nenek moyang mereka sangatlah populer bagi orang yang mau membaca kitab-kitab para ulama kita. Dan bibit merekapun telah berkembang di sekitar kita sekarang ini. Mereka tidak membicarakan selain celaan kepada Ibnu Taimiyyah beserta orang-orang yang sejalan dengannya dari kalangan para sahabat, tabiin serta orang-orang yang berjalan di atas petunjuk mereka.

Sesungguhnya penyebab permusuhan yang mereka lancarkan hanyalah karena aqidah yang shahih. Yaitu, ketika mereka tidak sanggup berhadapan langsung dengan al-haq, merekapun mengganggap bahwa dengan mencela tokoh-tokoh pembela kebenaran lebih mudah untuk melunturkan al-haq itu sendiri.

Hal tersebut telah mereka lakukan dengan berbagai cara di setiap tempat dan kesempatan baik melalui pernyebaran kitab, tulisan, kedustaan maupun tuduhan” [2]

Salah satu contoh buku yang berisi tuduhan dan celaan terhadap syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah buku “Aqidab Ahlus Sunnah Wal Jamaah” karya KH Sirajuddin Abbas [3]. Keberaniannya menuduh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sangat mengejutkan kita. Lebih mengejutkan lagi, penulis tersebut seringkali meminjam nama “Ahlus Sunnab Wal Jama’ah” bukan pada tempatnya, oleh karena itu sangatlah baik sekali sebelum memasuki pambahasan, kami kutipkan terlebih dahulu pengertian Ahlus Sunnah wal Jama’aah yang sebenarnya. Sebab banyak sekali orang maupun golongan mengakuinya padahal amalan-amalan mereka jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Al-Imam Ibnu Hazm berkata dalam kitabnya “Al Fashl fil Milal Wa Nihal” 2/271: “Yang dimaksud Ahlus Sunnah adalab Ahlul haq dari kalangan para sahabat, dan setiap orang yang menempuh jalan mereka dari kalangan para tabi’in, ahlul hadits dan para fuqaha dari generasi ke generasi hingga pada zaman kita ini. Demikian pula orang-orang awam yang mengikuti mereka, baik di belahan timur maupun barat semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati mereka semuanya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga berkata menerangkan definisi Ahlus Sunnah dalam Majmu’ Fatawa” 3/375 : “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta apa yang menjadi kesepakatan para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”.

Beliau juga berkata dalam “Majmu’ Fatawa 3/346: “Barang siapa yang berkata dengan Al-Qur’an, As Sunnah dan ijma’ salaf maka dialah Ahlus Sunnah.”
Pada kesempatan ini kami akan mencoba menyingkap kedustaan-kedustaan yang terdapat dalam kitab “I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’aah” karya KH. Sirajuddin Abbas hal 270-307 pada judul: Fatwa-fatwa Ibnu Taimiyah, yang bertentangan dengan fatwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah”.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi orang-orang yang berakal, orang-orang yang jauh dari sifat menolak kebenaran, dan jauh pula dari sifat yang dikisahkan Allah dalam kitab-Nya:

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِم مُّهْتَدُونَ

Bahkan mereka berkata sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk. [Az Zukhruf :22]

PASAL I
MADZHAB IBNU TAIMIYAH DALAM ISTIWA’
Hal 270 : “Ibnu Taimiyah menfatwakan bahwa Tuhan duduk bersila di atas arsy serupa dengan duduk bersilanya Ibnu Taimiyah sendiri, faham ini beberapa kali diulanginya di atas mimbar masjid Bani Umayah di Damsyik Syiria dan di Mesir”

Jawaban : “PenuIis fidak menerangkan sumber riwayatnya, sehingga kita bertanya-tanya: “Dari manakah penulis menukil perkataan itu?” Di kitab apa dan siapa pengarangnya?! Semua pertanyaan, itu selalu terngiang-ngiang di telinga kita yang tentunya membutuhkan jawaban.

Kami katakan: “Maha suci Allah dari apa yang dituduhkan!! Sesungguhnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sangat jauh dari tuduhan seperti ini. Bagaimana tidak? Perhatikanlah perkataan beliau berikut ini baik-baik! lalu bandingkan dengan tuduhan penulis ini. Beliau berkata: “Demikian juga apabila ada seorang yang menjadikan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala serupa dengan sifat makhluk-Nya, Seperti mengatakan istiwa’ Allah Subhanahu wa Ta’ala serupa dengan istiwa’ makhluk-Nva atau turunnya Allah Subhanahu wa Ta’ala serupa dengan turunnya makhluk, Maka orang ini mubtadi’ (ahli bid’ah), sesat dan menyesatkan. Karena Al Qur’an dan As-Sunnah serta akal menunjukkan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya dalam segala segi” [4]

Lihatlah wahai saudaraku alangkah jelasnya perkataan yang bagus ini!

Hal 270 : “Jadi Ibnu Taimiyyah boleh digolongan kaum Dhahiriyyah yaitu kaum yang mengartikan ayat.ayat Al Qur’an dan hadits nabi secara lahirnya saja”.

Jawaban : “Ya, boleh-boleh saja tuan golongkan lbnu Taimiyyah kepada kaum Dhahiriyyah. Tapi apakah Ibnu Taimiyyah salah dan sesat karena dia termasuk kaum Dhahiriyyah? jika tuan menyalahkan Ibnu Taimiyyah karena dia mengartikan ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah secara lahirnya saja, maka tuan juga harus menyalahkan ulama-ulama salaf pendahulu lbnu Taimiyyah yang telah sepakat mengartikan ayat-ayat dan hadits tentang sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya. Kami nukilkan di sini dua penukilan saja:

1. Walid bin Muslim berkata: “Aku bertanya kepada Al-Auza’i, Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Laits bin Sa’ad tentang hadits-hadits masalah sifat? Mereka semuanya mengatakan kepadaku: “Jalankanlah sebagaimana datangnya tanpa tak’yif (menggambarkan bagaimananya/bentuknya)” [5]

2. Al Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata: “Seluruh Ahlus Sunnah telah bersepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta mengartikannya secara dhahirnya. Tetapi mereka tidak menggambarkan bagaimananya/bentuknya sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyyah, Mu’tazilah dan Khawarij mereka mengingkari sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengartikannya secara dhahirnya. Lucunya mereka menyangka bahwa orang yang menetapkannya termasuk Musyabbih (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk” [6]

Cukuplah dua nukilan ini saja, kalau kami turunkan seluruh perkataan salaf dalam masalah ini maka akan terlalu panjang. Inilah pendahulu lbnu Taimiyyah yaitu ulama-ulama salaf ahlu As Sunnah wal jamaah, lalu siapakah pendahulumu wahai tuan? Tunjukkan siapa Ahlus Sunnah yang tidak mengartikan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara dhahirnya!.

Hal, 271 : “Ulama-ulama salaf menyerahkan arti yang hakiki dari perkataan istiwa’ itu kepada Allah, memang dalam bahasa arab istiwa’ artinya duduk tetapi ayat-ayat sifat istiwa’ lebih baik dan lebih aman bagi kita, tidak diartikan, hanya diserahkan artinya kepada Tuhan sambil kita i’tiqadkan bahwa Tuhan tidak serupa dengan makhluk”.

Jawaban : Perkataan ini merupakan kedustaan dan kebohongan nyata atas nama ulama-ulama salaf, Siapa salaf yang mempunyai pemikiran seperti ini? Apakah mereka sahabat Rasulullah ? Apakah mereka para Tabi’in? Apakah mereka para ahli hadits seperti Bukhari, Muslim dan lainnya? Tidakkah tuan tahu jika pemikiran seperti ini adalah pemikiran kaum Mufawwidhah, kelompok ahlu bid’ah yang sangat keji? Pemikiran ini telah dibantah habis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Beliau berkata: “Pendapat Tafwid ini merupakan celaan terhadap Al Qur’an dan para Nabi. Karena Allah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, dan Allah juga memerintahkan para Rasul-Nya agar menyampaikan dan menerangkan wahyu, lantas tidak seorangpun mengetahui artinya?!. Lalu bagaimana seseorang akan merenungi Al-Quran yang diturunkan sebagai petunjuk?

Kalau pendapat ini diterima, maka setiap mubtadi’ (ahli bid’ah)akan bebas menyatakan bahwa kebenaran adalah apa yang diketahui pikiran dan akal kita masing-masing. Pemikiran ini merupakan penutup petunjuk ilahi dan pembuka pintu bagi para penyeleweng untuk mengatakan: “Sesungguhnya petunjuk itu ada pada jalan kami, bukan pada jalan para nabi, karena kami mengerti apa yang kami katakan sedangkan para nabi tidak mengerti apa yang mereka katakan”. Dan sini, jelaslah bahwa perkataan Ahlu tafwid (orang yang berfaham tafwid) yang mengaku mengikuti As-Sunnah dan salaf termasuk perkataan ahlu bid’ah yang sangat keji” [7]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menukil perkataan beliau ini dalam kitabnya “Al Qawaidul Al Mutsla fi Asma Al Husna” hal 43-44, lalu mengomentari sebagai berikut: “Ini merupakan perkataan yang sangat bagus sekali, keluar dari pikiran yang cerdas. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dengan seluas-luasnya serta mengumpulkan kita semua di surga-Nya”.

Hal 271 : “Ulama khalaf menta’wilkan kata istawa’ itu dengan istaula yakni menguasai atau memerintah”

Jawaban : Sungguh amat jauh penyimpangan penulis ini!!! Karena jelas-jelas bertentangan dengan pemahaman salafus shaleh. Kami tidak ingin memperpanjang bantahan syubhat ini, karena masih banyak lagi syubhat yang masih perlu dijawab.

Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah telah membantah secara panjang lebar dalam “Maj’mu Fatawa” 5/144-149, demikian juga Ibnu Qayyim, muridnya, di dalam Mukhtashar Shawa’iqul Al Mursalah” hal 353-366. Kami cukupkan di sini dengan tiga point saja.

1. Penafsiran ini tidak dinukil dari kalangan salaf, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in. Tidak ada seorangpun dari mereka yang menafsirkan seperti penafsiran ini, bahkan orang pertama kali yang menafsirkan istawa’ dengan istaula adalah sebagian kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah sebagaimana diceritakan oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dalam bukunya “Al Maqalat” dan Al Ibanah” [8]

2. Sesungguhnya menafsirkan kitab Allah dengan penafsiran yang baru dan menyelisihi penafsiran Salaf As shaleh, mengharuskankan dua perkara, yaitu: entah dia yang salah, atau Salaf As-shaleh yang salah. Seorang yang berakal sehat tidak akan ragu bahwa penafsiran baru yang menyelisihi Salaf As-shaleh ini yang pasti salah [9].

3. Tidak ada di dalam bahasa arab kalau kata istawa’ berarti istaula, bahkan hal ini diingkari oleh pakar bahasa yaitu Ibnu ‘A’rabi [10]

Orang-orang yang menta’wil istawa’ dengan istaula tidak mempunyai hujah kecuali suatu bait syair terkenal [11]

ثُمَّ اسْتَوَى بِشْرٌ علَى الْعِرَاقِ مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَلاَ دَمٍ مُهْرَاقٍ

“Kemudian Bisyr menguasai Irak tanpa pedang dan tanpa pertumpahan darah”

Padahal tidak ada penukilan yang sangat jelas bahwa bait ini termasuk bait syair arab. Oleh karena itu para pakar bahasa mengingkari bait ini seraya mengatakan: “Ini adalah bait yang dibuat-buat, tidak dijumpai dalam bahasa”.

Bukankah kalau seorang hendak berhujjah dengan hadits, ia harus mengetahui lebih dahulu keabsahan hadits tersebut? Maka bagaimana dengan bait syair yang tidak diketahui sanadnya ini !!! [12]

Hal, 271 : “Karena itu Ibnu Taimiyyah bukanlah pengikut ulama’-ulama salaf dan juga ulama’-ulama’ khalaf, ini harus dicamkan benar-benar. Karena di Indonesia terdengar desus-desus bahwa Ibnu Taimiyyyah itu pengikut faham salaf”

Jawaban : Ya, kalau arti salaf seperti arti salafnya tuan, maka benar. Karena antara Syeikhul Islam dengan orang-orang seperti tuan amat jauh sekali! Tetapi, jika maksud salaf adalah mereka yang mengikuti manhaj Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabatnya, para tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka kami katakan kepada tuan dengan bait syair:

أَئِمَّةُ شَأْنٍ كَالشُّمُوْسِ اشتِهَارُهُمْ فَمَا انْطَمَسُوْا إِلاَّ مَنْ بِهِ عُمِيَ

“Kemasyhuran para imam kebenaran itu seperti matahari
Tidaklah terhapuskan melainkan orang yang buta matanya”

Seorang penyair lain mengatakan:

وَهَبَنِي قُلْتَ أَنَّ الصُّبْحَ لَيْلٌ أَيَعْمَى الْمُبْصِرُوْنَ عَنِ الضِّيَاءِ

“Dia memberitahuku bahwa engkau mengatakan: “Sesungguhnya subuh adalah malam”.
Apakah orang-orang yang mempunyai penglihatan telah buta dari sinar?“

Terus terang saja, perkataan seperti ini sebenarnya tidaklah layak untuk ditangggapi. Karena sebagaimana kata penyair:

وَلَيْسَ يَصِحُّ فِي الْأذْهَانِ شَيْءٌ إِذَا احْتَاجَ النّهَارُ إِلَى دَلِيْلٍ

“Tidaklah masuk akal sedikitpun,
jika siang hari membutuhkan dalil (penunjuk jalan)”

Tetapi sebagai jawaban, cukuplah di sini disebutkan dua point saja:

1. Al-Hafidz Ad-Dzahaby berkata menyifati syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Beliau telah menolong sunnnah nabawiyyah, dan manhaj salaf, beliau juga berhujjah dengan hujjah yang sulit dicari tandingannya” [13]

2. Fatwa Lajnah Daimah (Komisi Fatwa Saudi) yang diketuai oleh Syeikh AI-Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, terhadap pertanyaan sebagai berikut: “Sebagian orang mengatakan bahwa lbnu Taimiyyah bukanlah termasuk Ahlus Sunnah wal jama’ah, sesat dan menyesatkan. Betulkah ini?”

Jawaban: “Sesungguhnya Syeikh Ahmad bin Abdul Halim lbnu Taimiyyyah termasuk imam di antara imam-imam Ahlus Sunnah wal jama’ah, berda’wah menuju kebenaran dan jalan yang lurus, dengannya Allah menolong As-Sunnah dan menghancurkan bid’ah. Barangsiapa menghukumi Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah bukan seperti di atas, maka dia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah), sesat dan menyesatkan. Dia telah buta tentang sejarah Islam sehingga yang benar disangka bathil dan yang bathil disangka benar. Semua ini dapat diketahui bagi siapa yang Allah terangkan pandangannya, serta mau membaca buku-buku karangannya, lalu membandingkannya dengan kitab-kitab musuh-musuhnya” [14]

Wahai pembaca, camkanlah fatwa ini baik-baik karena di Indonesia terdengar desas-desus bahwa Ibnu Taimiyyah bukan pengikut Ahlus Sunnah wal jama’ah. Janganlah tertipu oleh mereka! karena sesungguhnya mereka berada di dalam penyimpangan dan kebatilan yang sangat jauh.

Hal. 274 : “Andai kata diterima faham Ibnu Taimiyyah, yang berpendapat bahwa tuhan itu bersila di atas Arsy, maka bagaimana lagi ayat al-Al Qur’an: “Allah bersama kalian dimanapun kalian berada” Faham lbnu Taimiyyah ini menimbulkan kesan seolah-olah tuhan itu dua atau yang satu duduk bersila di atas arsy’ dan yang lain berjalan-jalan bersama manusia, alangkah kelirunya faham ini”

Jawaban : Sungguh benar kata penyair:
وَعَيْنُ الرِّضَى عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ كَمَا أَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِى الْمَسَاوِيَ
“Pandangan simpati menutup segala cacat,
Sebagaimana pandanganpun kebencian menampakkan segala kecacatan”

Bukankah pemikiran ini hanyalah muncul dari fikiran tuan belaka? Mengapa tuan begitu hasad terhadap Ibnu Taimiyyah? padahal lbnu Taimiyyah sangatlah jauh dari apa yang tuan bayangkan. Bahkan beliau berkata: “Janganlah seorang menyangka bahwa ayat-ayat Allah saling bertentangan. Seperti mengatakan: ”Ayat yang menerangkan bahwa Allah berada di atas arsy’ bertentangan dengan ayat: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” atau selainnya. Maka ini merupakan kekeliruan.

Karena Allah bersama kita secara hakekat dan Allah juga berada diatas arsy’ secara hakekat pula. Sebagaimana Allah menggabungkan hal ini dalam firmanNya:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي اْلأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas atsy’. Dia mengetahui apa yang masuk pada bumi dan apa yang keluar darinya, dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik padanya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada, Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadid:4]

Allah mengabarkan dalam ayat ini bahwasanya Dia berada di atas arsy’, mengetahui segala sesuatu, dan Dia-pun bersama kita di manapun kita berada. Inilah ma’na perkataan salaf: “Sesungguhnya Allah bersama hamba dengan ilmunya” [15]

PASAL 2
MADZHAB IBNU TAIMIYYAH TENTANG NUZUL
Setelah membawakan hadits tentang nuzul (turunnya Allah ke langit dunia), pada hal : 275. penulis berkata: “Ketika menerangkan hadits ini, Ibnu Taimiyyah mencobakan bagaimana turunnya tuhan dari langit, yaitu seperti ia turun dari mimbar”

Jawaban : Sebelum kita menjawab tuduhan ini, sangatlah baik sekali kita mengetahui terbih dahulu hadits nuzul tersebut

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ n قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَ تَعَالىَ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ , مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرِ لِهُ

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, akan Kuberi, Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Kuampuni” [16]

Setelah kita mengetahui keabsahan hadits ini, maka kita jawab tuduhan penulis tersebut terhadap lbnu Taimiyyah, dengan bertanya kepadanya: “Dari manakah tuduhan ini? Dikitab apa ? Siapa yang menceritakannya? Siapa ulama’ yang mencatat kisah ini? Mana murid-muridnya? Siapa ahil sejarah yang mencatatnya?”

Barangkali penulis mengambil warisan danri nenek moyang pendusta yang bernama Ibnu Bathuthah yang telah dibongkar kedustaannya oleh para ahlu ilmu [17]. Kita cukupkan di sini dengan perkataan syeikhul Islam sendiri setelah membawakan hadits diatas: “Para salaf, para imam, dan para ahlu ilmu dan hadits telah bersepakat membenarkan dan menerima hadits ini. Barangsiapa yang berkata seperti perkataan rasul, maka dia benar. Tetapi barangsiapa yang memahami hadits ini atau hadits-hadits yang sejenisnya dengan pemahaman yang Allah suci darinya, seperti menyerupakanNya dengan sifat makhluq, dan menyifatiNya dengan kekurangan, maka dia telah salah. Oleh karena itu madzhab salaf meyakini dalam sifat ini dengan menetapkan sifat-sifat bagi Allah dan tidak menyerupakannya dengan makhluk. Karena Allah disifati dengan sifat-sifat terpuji dan suci dari penyerupaan dengan makhlukNya” [18]

Hal : 276 : “Sebagaimana dimaklumi dunia ini bundar, malam di suatu tempat, siang di tempat yang lain, kalau di Indonesia matahari sudah terbenam dan sudah malam maka di Makkah baru pukul dua belas siang. Kalau di lndonesia siang bolong umpamanya pukul sepuluh pagi, maka di Belanda betul-betul pukul dua malam. Dan begitulah seterusnya. Nah, kalau tuhan turun ke bawah pada sepertiga malam terakhir, sebagaimana turunnya Ibnu Taimiyah, maka pekerjaan tuhan hanya turun-turun saja setiap waktu bagi seluruh penduduk dunia. Karena waktu malam sepertiga malam terakhir bergantian di seluruh dunia, sedang tuhan hanya satu.”

Jawaban : Demikianlah jika seorang telah dimotori dengan akal, mengapakah tuan menggambarkan Allah sedemikian rupa? Mengapakah tuan tidak pasrah terhadap hadist Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang yang shahih? Bukankah Allah berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman sehingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap hukummu, dan mereka pasrah dengan sebenar-benarnya. [An-Nisa’:65]

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari imam Az-Zuhri, dia mengatakan: “Wahyu itu dari Allah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyampaikan, kewajiban kita hanya pasrah dan tunduk” [19]

Imam Ath-Thahawy berkata: “Tidaklah selamat seorang hamba dalam agamanya kecuali apabila dia tunduk dan pasrah terhadap Allah dan RasulNya n , dan mengembalikan segala kesamaran kepada yang Maha Mengetahui” [20].

Kewajiban kita dalam hadits-hadits seperti ini adalah:
1. Beriman terhadap nash-nash yang shahih.
2. Tidak bertanya bagaimana serta menggambarkannya, baik dalam fikiran, terlebih lagi dalam ungkapan. Karena hal itu termasuk berkata terhadap AIllah tanpa ilmu, sedangkan Allah tidak dapat dijangkau oleh fikiran.
3. Tidak menyerupakan sifatNya dengan sifat makhluk. Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [As-Syura:11]

Jika kita memahami kewajiban ini, maka tidak akan ada lagi kerancuan dalam hadits nuzul atau lainnya yang menerangkan sifat-sifat Allah. Yang penting, jika tiba sepertiga malam terakhir maka Rabb turun ke langit dunia, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam [21]

Hal. 276 : “Yang benar, ialah tafsiran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa pintu rahmat tuhan lebih terbuka pada sepertiga malam terakhir, menurut waktu setempat, karena itu berdoalah pada waktu itu”

Jawaban : Inilah yang dinamakan ta’wil! sebuah ta’wil yang dibangun di atas hujjah anak-anak dan wanita, sebuah ta’wil yang telah dikikis bersih oleh Syeikhul Islam sendiri dalam ‘Majmu’ Fatawa” 5/415-517.

Tidak ada seorang sahabatpun yang menta’wil seperti ini… camkanlah baik-baik perkataan lbnu Taimiyyah berikut ini: “Sesungguhnya aku telah menelaah tafsir-tafsir yang dinukil dari kalangan sahabat dan apa yang mereka riwayatkan dari hadits-hadits nabi, dan aku telah membaca kitab-kitab, baik yang besar maupun kecil lebih dari seratus buku tafsir, akan tetapi sampai saat ini saya tidak mendapatkan seorangpun dari sahabat yang menta’wil satupun dari ayat-ayat sifat maupun hadits…” [22]

Cukuplah sebagai renungan kita bersama “Apakah rahmat Allah mampu untuk mengatakan: “Barangsiapa yang berdoa kepadaKu akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepadaKu akan Kuberi”, sungguh amatlah mustahil sekali!! sekalipun bagi orang-orang yang bodoh.

Syeikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz berkata membantah ta’wil-ta’wil seperti ini: “Ini merupakan kesalahan yang nyata sekali, bertentangan dengan nash-nash shahih yang menetapkan nuzul (turunnya) Allah. Pendapat yang benar, ialah pendapat salaf shaleh, yaitu meyakini turunnya Allah dan memahami riwayat itu sebagaimana datangnya, tanpa takyif (membagaimanakan), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). lnilah jalan yang paling benar, paling selamat, paling cocok, dan paling bijaksana. Pegangilah keyakinan ini dan gigitlah dengan gigi gerahammu serta berhati-hatilah dari keyakinan¬-keyakinan yang menyelisihi ini, Semoga engkau bahagia dan selamat” [23]

PASAL 3
MADZHAB IBNU TAIMIYYAH DALAM ZIARAH KUBUR
Hal, 274 : “Ibnu Taimiyyah mengharamkan orang yang ziarah ke makam nabi di Madinah, dan perjalanan itu (kalau dilakukan) dianggap ma’siat menurut Ibnu Taimiyyah”

Hal, 278 : “Walaupun kebanyakan umat Islam tidak mau mengikut, tapi sejarah Islam telah mencatat bahwa ada seorang ulama’ Islam di Damsyik pada abad 7H, yang mengharamkan ziarah ke makam nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Ibnu Taimiyyah”

Jawaban: “Masalah ini bukanlah masalah baru, dan tuduhan ini bukanlah tuduhan yang baru pula, pada masa beliau sudah ada yang membuat kedustaan atas beliau dalam hal ini.

Agar tidak ada salah faham dalam maslah ini, maka hendaklah dicermati baik-baik. Kami katakan: “Sesungguhnya Syeikhul Islam lbnu Taimiyyah tidaklah mengharamkan ziarah kubur yang syar’i, baik kuburan Nabi n atau lainnya. Akan tetapi yang beliau larang adalah ziarah kubur bid’i (secara bid’ah), seperti mengadakan penjalanan dengan tujuan ziarah kubur, sebagaimana sering dilakukan banyak orang, terutama di Indonesia ini. Larangan itu berdasarkan hadits, bahwasanya Rasulullah n bersabda:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالِ إِلاَّ إلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ مَسْجِدِي هَذَا وَ الْمَسْجِدِ الأَقْصَى

Janganlah mengadakan perjalanan kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini(masjid Nabawi) dan masjidil Aqsha. [24]

Sesungguhnya orang yang mau membaca kitab-kitab Syeikhul Islam lbnu Taimyyah dengan adil dan jujur, niscaya ia akan mengetahui bahwa beliau sama sekali tidak mengharamkan ziarah kubur sebagaimana tuduhan penulis ini. Perhatikanlah perkataan beliau berikut ini baik-baik: “Telah aku jelaskan dalam kitabku tentang manasik haji, bahwa bepergian ke masjid Nabawi dan menziarahi kubur beliau – sebagaimana diterangkan imam kaum muslimin dalam manasik- merupakan amal shaleh yang dianjurkan…” Beliau juga berkata: “Barangsiapa yang bepergian ke Masjid Haram, Masjid Aqsha atau Masjid Nabawi, kemudian shalat di masjidnya, lalu menziarahi kubur beliau sebagaimana Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ini merupakan amal shaleh. Barangsiapa mengingkari safar seperti ini, maka dia kafir diminta taubat, jika bertaubat itulah yang diharapkan. Jika tidak maka dibunuh.

Adapun seseorang yang melakukan perjalanan hanya untuk ziarah kubur semata, sehingga apabila sampai di Madinah, ia tidak shalat di masjidnya, tetapi hanya untuk ziarah kubur nabi n lalu pulang, maka orang ini mubtadi’ (ahli bid’ah) yang sesat, dan menyesatkan karena menyelisihi Sunnah Rasulullah, ijma’ salaf dan para ulama’ umat ini” [25]

Barangsiapa yang membaca kitab “Ar Raddu ‘ala Al-Akhna’i” dan “Al-Jawabul Al-Baahir Liman Sa’ala ‘an Ziyaratil Kubur” karya Ibnu Taimiyyah, ia akan yakin dengan apa yang kami uraikan.

Hal ini dikuatkan oleh murid-murid beliau di antaranya.
1. Al-Hafidz Ibnu Abdil Hadi, beliau berkata dalam ‘As Sharim Al-Munky” Hal; 15: “Hendaklah diketahui, sebelum membantah orang ini (as-Subkiy) bahwasanya Syeikhul Islam lbnu Taimiyyah tidaklah mengharamkam ziarah kubur yang syar’i dalam kitab-kitabnya. Bahkan beliau sangat menganjurkannya. Karangan-karanganya serta manasik hajinya adalah bukti atas apa yang saya katakan”

2. Al-Hafidz lbnu Katsir, beliau berkata dalam “Al Bidayah Wa An-Nihayah” 14/123: “Dan Syeikh lbnu Taimiyyah tidaklah melarang ziarah kubur yang bersih dari kebid’ahan, seperti bepergian/safar untuk ziarah kubur. Bahkan beliau mengatakan sunnahnya ziarah kubur, kitab-kitabnya dan manasik-manasik hajinya adalah bukti hal itu, beliau juga tidak pernah mengatakan haramnya ziarah kubur dalam fatwa-fatwanya, beliau juga tidak jahil dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ziarahlah karena hal itu dapat mengingatkan kalian dengan akherat”. Tetapi yang beliau larang adalah bepergian/safar untuk ziarah. Jadi ziarah kubur itu suatu masalah dan bepergian dalam rangka ziarah kubur itu masalah lain lagi”

Sebagai penutup pembahasan ini kami kutipkan pula perkataan Al-‘Allamah Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, beliau berkata dalam “Silsilah Ahadits adh-Dhaifah” 1/124, no: 47: “Perhatian: Banyak orang menyangka bahwa Syeikhul Islam Ibnu Iaimiyyah dan orang-orang yang sejalan dengannya di kalangan salafiyin melarang ziarah kubur nabi. Ini merupakan kedustaan dan tuduhan palsu. Tuduhan seperti ini bukanlah perkara yang baru. Orang yang mau menelaah kitab-kitab lbnu Taimiyyah akan mengetahui bahwa beliau mengatakan disyariatkannya ziarah kubur nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan syarat tidak diiringi dengan kemungkaran-kemungkaran dan kebid’ahan-kebid’ahan seperti bepergian/safar ke sana, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid”

Yang dikecualikan dalam hadits ini bukanlah masjid saja sebagaimana persangkaan kebanyakan orang, tetapi setiap tempat yang dijadikan taqarrub kepada Allah, baik berupa masjid, kuburan, atau selainnya. Hal ini berdasarkan dalil yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata; “Aku berjumpa dengan Busyirah Ibnu Abi Basyrah Al-Ghifary, lalu dia bertanya kepadaku: “Dari mana kamu ? jawabku: “Dari bukit Thur”, Dia berkata; “Seandainya aku mengetahui sebelum kepergianmu ke sana, niscaya engkau tidak akan jadi pergi ke sana, aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Tidak boleh mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid”

Ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa para sahabat memahami hadits ini dengan keumumannya. Hal ini juga dikuatkan dengan tidak adanya penukilan dari seorang sahabatpun bahwa mereka mengadakan perjalanan ke kuburan siapapun. Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan:

وَكُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ وَكُلُّ شَرٍّ فِي ابْتِدَاعِ مَنَ خَلَفَ
“Setiap kebaikan adalah dengan mengikuti kaum salaf.
Dan setiap kejelekan adalah dengan mengikuti kaum khalaf”

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Lihat Dhawaabith Amar Ma’ruf Nahi Mungkar ‘Inda Syeikhil Islam Ibnu Taimiyah Hal.l6-17 OIeh Syeikh Ali bin Hasan. Al Ashalah cet I th. 1414H.
[2]. Kutub hadzara Minha Ulama’ 1/229-230, Daar As–Suma’i cet. I th. 1415H
[3]. Buku ini telah dicetak berulang kali, adapun buku rujukan kami dalam hal ini adalah terbitan Pustaka Tarbiyah, jakarta th. 1983M
[4]. Majmu’ Fatawa 5/252
[5]. Dikeluarkan Ash-Shabuni dalam “Aqidah Salaf”.no. 90, Imam Adz-Dzahabi dalam “Al’Uluw. 137 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam “Mukhtashar” Hal. 142-14
[6]. Mukhtashar al-Uluw” Hal. 278-279
[7]. Dar’u Taarudil Aql Wan Naql I/201-205
[8]. Tapi lucunya mereka mengingkari keabsahan penisbatan dua kitab ini kepada Imam Al-Asy’ari dengan hujjah yang lebih lemah dari sarang laba-laba
[9]. Mukhtashar Shawa’iqul Mursalah” Hal. 353
[10]. Mukhtashar Al-Uluw” hal. 195-196
[11]. Seperti kitab ini juga pada hal. 273
[12]. Majmu’ Fatawa 5/146
[13]. Dzail Thabaqat Hanabilah” 2/394
[14]. Fatawa Lajnah Daimah” 2/173
[15]. Aqidah Washitiyah” hal. 22-23.
[16]. HR. Bukhari No. 1145 dan Muslim No. 758
[17]. Lihat : Misalnya kitab “At-Tasfhiyah Wa Tarbiyah” Hal. 68-69 oleh Syeikh Ali bin Hasan dan kitab “Qashahshun laa tats-butu” 1/66-69 Oleh Syeikh Yusuf Ibnu Muhammad Atyq
[18]. Syarah Hadits Nuzul” Hal. 69-70
[19]. Fathul Baari” 13/512
[20]. Syarah Aqidah Thahawiyah” Hal. 199 Cet. Makhtab Islmay
[21]. Llihat. Majmu’ Fatawa Wa Maqalaat Syaikh Ibnu Utsaimin” 1/216
[22]. Majmu’ Fatawa” 6/394
[23]. Ta’liq ‘Ala Fathil Baary” 3/30
[24]. HR. Bukhari No. 1189 dan Muslim No. 827
[25]. Majmu’ Fatawa” 26/329-344

http://www.almanhaj.or.id

______________

sumber terkait:

Akal-akalan KH. Sirajuddin Abbas berkata dalam buku hitamnya, “Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah” hal. 276

Kumpulan Penjelasan Mengenai Perayaan Maulid Nabi

Berikut ini kami sajikan kumpulan penjelasan mengenai perayaan Maulid Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Semoga permasalahan yang selalu menjadi polemik setiap tahunnya ini dapat dipahami secara ilmiah dan juga menyeluruh. Bagi pihak yang kontra, harap menyimak penjelasan-penjelasan berikut dengan seksama, hati yang tenang dan pikiran yang  jernih agar tidak muncul prasangka-prasangka buruk, semisal prasangka bahwa melarang perayaan Maulid adalah mengkafirkan dan menyesatkan setiap orang yang mengikuti perayaan tersebut.

Semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua.

Kewajiban Cinta Kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam

Antara Cinta Nabi dan Maulid Nabi

Hukum Merayakan Maulid

Maulid Nabi Adalah Bid’ah Hasanah?

 

sanad : http://muslim.or.id/manhaj/kumpulan-penjelasan-mengenai-perayaan-maulid-nabi.html

Cinta Sejati Kepada Sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

16/02/2011 1 komentar

Hukum Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)

 

Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [I/58] no: 15, dan Muslim dalam Shahih-nya [I/67 no: 69])

Banyak sekali hadits-hadits yang senada dengan dua hadits di atas, yang menekankan wajibnya mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena hal itu merupakan salah satu inti agama, hingga keimanan seseorang tidak dianggap sempurna hingga dia merealisasikan cinta tersebut. Bahkan seorang muslim tidak mencukupkan diri dengan hanya memiliki rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, akan tetapi dia dituntut untuk mengedepankan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -tentunya setelah kecintaan kepada Allah- atas kecintaan dia kepada dirinya sendiri, orang tua, anak dan seluruh manusia.

Potret Kecintaan Para Sahabat Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Bicara masalah cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa diragukan lagi adalah orang terdepan dalam perealisasian kecintaan mereka kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengapa? Sebab cinta dan kasih sayang merupakan buah dari perkenalan, dan para sahabat merupakan orang yang paling mengenal dan paling mengetahui kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak mengherankan jika cinta mereka kepada Beliau jauh lebih besar dan lebih dalam dibandingkan kecintaan orang-orang yang datang sesudah mereka.

Di antara bukti perkataan di atas, adalah suatu kejadian yang terekam dalam sejarah yaitu: Perbincangan yang terjadi antara Abu Sufyan bin Harb -sebelum ia masuk Islam- dengan sahabat Zaid bin ad-Datsinah rodhiallahu ‘anhu ketika beliau tertawan oleh kaum musyrikin lantas dikeluarkan oleh penduduk Mekkah dari tanah haram untuk dibunuh. Abu Sufyan berkata, “Ya Zaid, maukah posisi kamu sekarang digantikan oleh Muhammad dan kami penggal lehernya, kemudian engkau kami bebaskan kembali ke keluargamu?” Serta merta Zaid menimpali, “Demi Allah, aku sama sekali tidak rela jika Muhammad sekarang berada di rumahnya tertusuk sebuah duri, dalam keadaan aku berada di rumahku bersama keluargaku!!!” Maka Abu Sufyan pun berkata, “Tidak pernah aku mendapatkan seseorang mencintai orang lain seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad!” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir [V/505], dan kisah ini diriwayatkan pula oleh al-Baihaqy dalam Dalail an-Nubuwwah [III/326]).

Kisah lain diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, “Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan Uhud, tersebar desas-desus di antara penduduk Madinah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbunuh, hingga terdengarlah isakan tangisan di penjuru kota Madinah. Maka keluarlah seorang wanita dari kalangan kaum Anshar dari rumahnya, di tengah-tengah jalan dia diberitahu bahwa bapaknya, anaknya, suaminya dan saudara kandungnya telah tewas terbunuh di medan perang. Ketika dia memasuki sisa-sisa kancah peperangan, dia melewati beberapa jasad yang bergelimpangan, “Siapakah ini?”, tanya perempuan itu. “Bapakmu, saudaramu, suamimu dan anakmu!”, jawab orang-orang yang ada di situ. Perempuan itu segera menyahut, “Apa yang terjadi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!” Mereka menjawab, “Itu ada di depanmu.” Maka perempuan itu bergegas menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menarik bajunya seraya berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak akan mempedulikan (apapun yang menimpa diriku) selama engkau selamat!” (Disebutkan oleh al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid [VI/115], dan dia berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dari syaikhnya Muhammad bin Su’aib dan aku tidak mengenalnya, sedangkan perawi yang lain adalah terpercaya.” Diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [II/72, 332]).

Demikianlah sebagian dari potret kepatriotan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pahala Bagi Orang yang Mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Tentunya cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan suatu ibadah yang amat besar pahalanya. Banyak ayat-ayat Al Quran maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan ganjaran yang akan diperoleh seorang hamba dari kecintaan dia kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara dalil-dalil tersebut:

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Rasulullah pun shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385])

Adakah keberuntungan yang lebih besar dari tinggal bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya di surga kelak??

Hakikat Cinta Pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Ragam Manusia di Dalamnya

Setelah kita sedikit membahas tentang hukum mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa potret cinta para sahabat kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ganjaran yang akan diraih oleh orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada perkara yang amat penting untuk kita ketahui berkenaan dengan masalah ini, yaitu: bagaimanakah sebenarnya hakikat cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?, bagaimanakah seorang muslim mengungkapkan rasa cintanya kepada al-Habib al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apa saja yang harus direalisasikan oleh seorang muslim agar dia dikatakan telah mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Masalah ini perlu kita angkat, karena di zaman ini banyak orang yang menisbatkan diri mereka ke agama Islam mengaku bahwa mereka telah mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah mengagungkannya. Akan tetapi apakah setiap orang yang mengaku telah merealisasikan sesuatu, dapat diterima pengakuannya? Ataukah kita harus melihat dan menuntut darinya bukti-bukti bagi pengakuannya? Tentunya alternatif yang kedua-lah yang seyogyanya kita ambil.

Manusia telah terbagi menjadi tiga golongan dalam memahami makna cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  1. Golongan yang berlebih-lebihan.
  2. Golongan yang meremehkan.
  3. Golongan tengah.

Kita mulai dari golongan tengah, yakni yang benar dalam memahami makna cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Golongan ini senantiasa menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai landasan mereka dalam mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun meneladani para generasi awal umat ini (baca: salafush shalih) dalam mengungkapkan rasa cinta kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena salafush shalih adalah generasi terbaik umat ini, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian generasi sesudah mereka (para tabi’in), kemudian generasi sesudah mereka (para tabi’it tabi’in).” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [V/258-259, no: 2651], dan Muslim dalam Shahih-nya [IV/1962, no: 2533])

Di antara bukti kecintaan mereka yang hakiki kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, antara lain:

a. Meyakini bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar utusan Allah subhanahu wa ta’ala, dan Beliau adalah Rasul yang jujur dan terpercaya, tidak berdusta maupun didustakan. Juga beriman bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang paling akhir, penutup para nabi. Setiap ada yang mengaku-aku sebagai nabi sesudah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pengakuannya adalah dusta, palsu dan batil. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 137, Ad-Durar as-Saniyyah bi Fawaid al-Arba’in an-Nawawiyah, hal 38, Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh Shalih Alu Syaikh, hal 56).

b. Menaati perintah dan menjauhi larangannya. Allah menegaskan,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

c. Membenarkan berita-berita yang beliau sampaikan, baik itu berupa berita-berita yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, karena berita-berita itu adalah wahyu yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)

d. Beribadah kepada Allah dengan tata-cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa ditambah-tambah ataupun dikurangi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Juga Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan, “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya (III/1344 no 1718).

e. Meyakini bahwa syariat yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setingkat dengan syari’at yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dari segi keharusan untuk mengamalkannya, karena apa yang disebutkan di dalam As Sunnah, serupa dengan apa yang disebutkan di dalam Al Quran (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hal: 138). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ

“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa: 80)

f. Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala Beliau masih hidup, dan membela ajarannya setelah beliau wafat. Dengan cara menghafal, memahami dan mengamalkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga menghidupkan sunnahnya dan menyebarkannya di masyarakat.

g. Mendahulukan cinta kepadanya dari cinta kepada selainnya. Sebagaimana kisah yang dialami oleh Umar di atas, akan tetapi jangan sampai dipahami bahwa cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan membawa kita untuk bersikap ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga mengangkat kedudukan beliau melebihi kedudukan yang Allah subhanahu wa ta’ala karuniakan kepada Nabi-Nya. Sebagaimana halnya perbuatan sebagian orang yang membersembahkan ibadah-ibadah yang seharusnya dipersembahkan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia persembahkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya: ber-istighatsah (meminta pertolongan) dan memohon kepadanya, meyakini bahwa beliau mengetahui semua perkara-perkara yang ghaib, dan lain sebagainya. Jauh-jauh hari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya agar tidak terjerumus ke dalam sikap ekstrem ini, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan dalam memuji (Isa) bin Maryam, sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka ucapkanlah (bahwa aku): hamba Allah dan rasul-Nya.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [VI/478 no: 3445])

h. Termasuk tanda mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mencintai orang-orang yang dicintainya. Mereka antara lain: keluarga dan keturunannya (ahlul bait), para sahabatnya (Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa, karya al-Qadli ‘Iyadl [II/573], Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah [III/407], untuk pembahasan lebih luas silahkan lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi fi Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, karya Prof. Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi [I/344-358]), serta setiap orang yang mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga masih dalam kerangka mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah kewajiban untuk memusuhi setiap orang yang memusuhinya serta menjauhi orang yang menyelisihi sunnahnya dan berbuat bid’ah. (Asy-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa, [2/575], untuk pembahasan lebih lanjut silahkan lihat: Huquq an-Nabi ‘Ala Ummatihi [I/359-361]).

Adapun golongan yang meremehkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah orang-orang yang lalai dalam merealisasikan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak memperhatikan hak-hak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan di atas.

Di antara potret peremehan mereka adalah: Sangkaan mereka bahwa hanya dengan meyakini kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah cukup untuk merealisasikan cinta kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa harus “capek-capek” mengikuti tuntunannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan di antara mereka ada yang belum bisa menerima dengan hati legowo tentang ke-ma’shum-an (dilindunginya) Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kesalahan-kesalahan dalam menyampaikan wahyu, sehingga perlu untuk dikritisi. Sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh koordinator JIL, Ulil Abshar Abdalla, “Menurut saya: Rasul Muhammad Saw adalah tokoh historis yang harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah hasanah).” (Islam Liberal & Fundamental, Sebuah Pertarungan Wacana, Ulil Abshar Abdalla dkk, hal 9-10).

Ada juga yang merasa berat untuk meyakini bahwa tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa diterapkan di segala zaman, sehingga harus “bergotong royong” untuk menyusun fikih gaya baru, yang digelari Fikih Lintas Agama. Dengan alasan “fiqih klasik tidak mampu lagi menampung perkembangan kebutuhan manusia modern, termasuk soal dimensi hubungan agama-agama.” (Fiqih Lintas Agama, Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis, Nurcholis Madjid dkk, hal: ix).

Di antara bentuk peremehan terhadap Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ulah Koran Denmark “Jyllands-Posten”, pada hari Sabtu, 26 Sya’ban 1426/30 September 2005, dengan memuat karikatur penghinaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akhzahumullah wa qatha’a aidiyahum, amien.

Dan masih banyak contoh-contoh nyata lainnya yang menggambarkan beraneka ragamnya kekurangan banyak orang yang menisbatkan diri mereka kepada agama Islam dalam merealisasikan cinta mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang itu semua bermuara pada penyakit tidak dijadikannya Al Quran dan As Sunnah dan pemahaman salaf sebagai barometer dalam mengukur kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Golongan ketiga adalah orang-orang yang ghuluw, yaitu mereka yang berlebih-lebihan dalam mengungkapkan cinta mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga mereka mengada-adakan amalan-amalan yang sama sekali tidak disyari’atkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pernah dilakukan oleh salafush shalih yang mana mereka adalah orang-orang yang paling tinggi kecintaannya kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Golongan ketiga ini mengira bahwa amalan-amalan tersebut merupakan bukti kecintaan mereka kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara sikap ekstrem yang mereka tampakkan; berlebihan dalam mengagung-agungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga menyifatinya dengan sifat-sifat yang merupakan hak prerogatif Allah subhanahu wa ta’ala. Di antara bukti sikap ini adalah apa yang ada dalam “Qashidah al-Burdah” yang sering disenandungkan dalam acara peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِي مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ العَمِمِ …

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

“Wahai insan yang paling mulia (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)!

Tiada seseorang yang dapat kujadikan perlindungan selain dirimu, ketika datang musibah yang besar…

Karena kebaikan dunia dan akhirat adalah sebagian kedermawananmu,

dan sebagian dari ilmumu adalah ilmu lauh (mahfudz) dan qalam”

(Tabrid al-Buldah fi Tarjamati Matn al-Burdah, M. Atiq Nur Rabbani, hal: 56).

La haula wa la quwwata illa billah… Bukankah kita diperintahkan untuk memohon perlindungan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika tertimpa musibah?? (Lihat: QS. Al An’am: 17 dan At Taghabun: 11). Bukankah kebaikan dunia dan akhirat bersumber dari Allah semata?! Kalau bukan kenapa kita selalu berdo’a: “Rabbana atina fid dun-ya hasanah wa fil akhirati hasanah…” ?? Terus kalau ilmu lauh mahfudz dan ilmu qalam adalah sebagian dari ilmu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas apa yang tersisa untuk Robb kita Allah subhanahu wa ta’ala??!! Inaa lillahi wa inna ilaihi raji’un…

Di antara amalan yang sering dipergunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah merayakan peringatan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sampai-sampai sudah menjadi budaya, hingga timbul semacam ketakutan moral diasingkan dari arena sosial jika tidak mengikutinya. Bahkan ada yang merasa berdosa jika tidak turut menyukseskannya.

Pernahkah terbetik pertanyaan dalam benak mereka: Apakah perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pernah diperintahkan oleh Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakannya? Atau mungkin salah seorang dari generasi Tabi’in atau Tabi’it Tabi’in pernah merayakannya? Kenapa pertanyaan-pertanyaan ini perlu untuk diajukan? Karena merekalah generasi yang telah dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai generasi terbaik umat ini, dan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kabarkan bahwa perpecahan serta bid’ah akan menjamur setelah masa mereka berlalu. Ditambah lagi merekalah orang-orang yang paling sempurna dalam merealisasikan kecintaan kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Merujuk kepada literatur sejarah, kita akan dapatkan bahwa acara maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sekalipun dirayakan pada masa tiga generasi awal umat ini, banyak sekali para ulama kita yang menegaskan hal ini.

Di antara para ulama yang menjelaskan bahwa Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah dikerjakan pada masa-masa itu:

  1. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalany, sebagaimana yang dinukil oleh as-Suyuthi dalam Husn al-Maqshid fi ‘Amal al-Maulid lihat al-Hawi lil Fatawa (I/302).
  2. Al-Hafidz Abul Khair as-Sakhawy, sebagaimana yang dinukil oleh Muhammad bin Yusuf ash-Shalihy dalam Subul al-Huda wa ar-Rasyad fi Sirati Khairi al-’Ibad (I/439).
  3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dalam Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim (I/123).
  4. Ibnul Qayyim, dalam kitabnya I’lam al-Muwaqqi’in (II/390-391).
  5. Al-Imam Tajuddin Umar bin Lakhmi al-Fakihani, di dalam risalahnya: Al-Maurid fi al-Kalami ‘ala al-Maulid, hal: 8.
  6. Al-Imam Abu Zur’ah al-Waqi, sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Muhammad bin ash-Shiddiq dalam kitabnya Tasynif al-Adzan, hal: 136.
  7. Ibnu al-Haj, dalam kitabnya al-Madkhal (II/11-12, IV/278).
  8. Abu Abdillah Muhammad al-Hafar, sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Yahya al-Wansyarisi dalam kitabnya al-Mi’yar al-Mu’rib wa al-Jami’ al-Mughrib ‘an Fatawa Ulama Ifriqiyah wa al-Andalus wa al-Maghrib (VII/99-100).
  9. Muhammad Abdussalam asy-Syuqairi, dalam kitabnya as-Sunan wa al-Mubtada’at al-Muta’alliqah bi al-Adzkar wa ash-Shalawat, hal: 139.
  10. Ali Fikri, dalam kitabnya al-Muhadharat al-Fikriyah, hal: 128.

Lantas siapakah dan kapankah maulid pertama kali diadakan? Maulid pertama kali dirayakan pada abad ke empat hijriah (kurang lebih empat ratus tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) oleh seorang yang bernama al-Mu’iz lidinillah al-’Ubaidi, salah seorang raja Kerajaan al-Ubaidiyah al-Fathimiyah yang mengikuti paham sekte sesat Bathiniyah (Lihat kesesatan-kesesatan mereka dalam kitab Fadhaih al-Bathiniyah, karya Abu Hamid al-Ghazali, dan Kasyful Asrar wa Hatkul Asrar, karya al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani). Sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.

Di antara para ulama yang mengungkapkan fakta ini:

  1. Al-Imam al-Muarrikh Ahmad bin Ali al-Maqrizi asy-Syafi’i (w 766 H), dalam kitabnya al-Mawa’idz wa al-I’tibar fi Dzikri al-Khuthathi wa al-Atsar (I/490).
  2. Al-Imam Tajuddin Umar bin Lakhmi al-Fakihani, di dalam risalahnya: Al-Maurid fi al-Kalami ‘ala al-Maulid, hal: 8.
  3. Ahmad bin Ali Al-Qalqasyandi asy-Syafi’i (w 821), dalam kitabnya Shubh al-A’sya fi Shiyaghat al-Insya’ (3/502).
  4. Hasan As-Sandubi dalam kitabnya Tarikh al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawi, hal: 69.
  5. Muhammad Bakhit al-Muthi’i (mufti Mesir di zamannya) dalam kitabnya Ahsan al-Kalam fima Yata’allaqu bi as-Sunnah wa al-Bid’ah min al-Ahkam, hal: 59.
  6. Ismail bin Muhammad al-Anshari, dalam kitabnya al-Qaul al-Fashl fi Hukm al-Ihtifal bi Maulid Khair ar-Rusul shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal: 64.
  7. Ali Mahfudz, dalam kitabnya al-Ibda’ fi Madhar al-Ibtida’, hal: 126.
  8. Ali Fikri, dalam kitabnya al-Muhadharat al-Fikriyah, hal: 128.
  9. Ali al-Jundi, dalam kitabnya Nafh al-Azhar fi Maulid al-Mukhtar, hal: 185-186.

Apa yang melatarbelakanginya untuk mengadakan perayaan ini? Berhubung mereka telah melakukan pemberontakan terhadap Khilafah Abbasiyah, dan mendirikan negara sendiri di Mesir dan Syam yang mereka namai Al Fathimiyah, maka kaum muslimin di Mesir dan Syam tidak suka melihat tingkah laku mereka, serta cara mereka dalam menjalankan tali pemerintahan, hingga pemerintah kerajaan itu (Bani Ubaid) merasa khawatir akan digulingkan oleh rakyatnya. Maka dalam rangka mengambil hati rakyatnya, al-Mu’iz lidinillah al-’Ubaidi mengadakan acara maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ditambah dengan maulid-maulid lain seperti maulid Fatimah, maulid Ali, maulid Hasan, maulid Husain dan maulid-maulid lainnya. Termasuk perayaan Isra Mi’raj dan perayaan tahun Hijriah. Hingga para ulama zaman itu berjibaku untuk mengingkari bid’ah-bid’ah itu, begitu pula para ulama abad kelima dan abad keenam. Pada awal abad ketujuh kebiasaan buruk itu mulai menular ke Irak, lewat tangan seorang sufi yang dijuluki al-Mula Umar bin Muhamad, kemudian kebiasaan itu mulai menyebar ke penjuru dunia, akibat kejahilan terhadap agama dan taqlid buta.

Jadi, sebenarnya tujuan utama pengadaan maulid-maulid itu adalah rekayasa politis untuk melanggengkan kekuasaan bani Ubaid, dan bukan sama sekali dalam rangka merealisasikan kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataupun kepada ahlul bait!! (Al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawi, Nasy’atuhu-Tarikhuh-Haqiqatuh-Man Ahdatsuh, Ibrahim bin Muhammad al-Huqail, hal: 5).

Hal lain yang perlu kita ketahui adalah hakikat akidah orang-orang yang pertama kali mengadakan perayaan maulid ini. Dan itu bisa kita ketahui dengan mempelajari hakikat kerajaan Bani Ubaid. Bani Ubaid adalah keturunan Abdullah bin Maimun al-Qaddah yang telah terkenal di mata para ulama dengan kekufuran, kemunafikan, kesesatan dan kebenciannya kepada kaum mukminin. Lebih dari itu dia kerap membantu musuh-musuh Islam untuk membantai kaum muslimin, banyak di antara para ulama muslimin dari kalangan ahli hadits, ahli fikih maupun orang-orang shalih yang ia bunuh. Hingga keturunannya pun tumbuh berkembang dengan membawa pemikirannya, di mana ada kesempatan mereka akan menampakkan permusuhan itu, jika tidak memungkinkan maka mereka akan menyembunyikan hakikat kepercayaannya (Lihat: Ar-Raudhatain fi Akhbar ad-Daulatain, Abu Syamah asy-Syafi’i, (I/198), Mukhtashar al-Fatawa lil Ba’li, hal: 488).

Adapun hakikat orang yang pertama kali mengadakan maulid yaitu al-Mu’iz lidinillah al-’Ubaidi, maka dia adalah orang yang gemar merangkul orang-orang Yahudi dan Nasrani, kebalikannya kaum muslimin dia kucilkan, dialah yang mengubah lafadz azan menjadi “Hayya ‘ala khairil ‘amal”. Yang lebih parah lagi, dia turut merangkul paranormal dan memakai ramalan-ramalan mereka (Lihat: Tarikh al-Islam karya adz-Dzahabi XXVI/350, an-Nujum az-Zahirah fi Muluk al-Mishr wa al-Qahirah karya Ibnu Taghribardi IV/75). Inilah hakikat asal sejarah maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan perlu diketahui, bahwa kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah diukur dengan merayakan hari kelahiran beliau atau tidak merayakannya. Bukankah kita juga mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan puluhan ribu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya? Apakah kita juga harus merayakan hari kelahiran mereka semua, untuk membuktikan kecintaan kita kepada mereka? Kalau begitu berapa miliar dana yang harus dikeluarkan? Bukankah lebih baik dana itu untuk membangun masjid, madrasah, shadaqah fakir miskin dan maslahat-maslahat agama lainnya?

Saking berlebihannya sebagian orang dalam masalah ini, sampai-sampai orang yang senantiasa berusaha menegakkan akidah yang benar, rajin sholat lima waktu di masjid, dan terus berusaha untuk mengamalkan tuntunan-tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, tidak dikatakan mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanya karena dia tidak mau ikut maulid. Sebaliknya setiap orang yang mau ikut maulid, entah dia sholatnya hanya setahun dua kali (idul adha dan idul fitri), atau dia masih gemar maksiat, dikatakan cinta kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukankah ini salah satu bentuk ketidakadilan dalam bersikap?

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang merealisasikan kecintaan yang hakiki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wallahu ta’ala a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

***

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc.
Artikel http://www.muslim.or.id

Syaikh Rabi’ Bin Hadi ‘Umair Al Madkhali

Asy Syaikh Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi

 

NAMA DAN NASAB BELIAU

Beliau adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi bin Muhammad ‘Umair Al-Madkhali, berasal dari suku Al-Madakhilah yang terkenal di Jaazaan, sebuah daerah di sebelah selatan Kerajaan Arab Saudi. Suku ini termasuk keluarga Bani Syubail, sedangkan Syubail adalah anak keturunan Yasyjub bin Qahthan.

 

KELAHIRAN BELIAU

Syaikh Rabi’ dilahirkan di desa Al-Jaradiyah, sebuah desa kecil di sebelah barat kota Shamithah sejauh kurang lebih tiga kilometer dan sekarang telah terhubungkan dengan kota tersebut. Beliau dilahirkan pada akhir tahun 1351 H. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih berumur sekitar satu setengah tahun, beliau tumbuh berkembang di pangkuan sang ibu -semoga Allah Ta’ala merahmatinya. Sang ibu membimbing dan mendidik beliau dengan sebaik-baiknya, mengajarkan kepada beliau akhlak yang terpuji, berupa kejujuran maupun sifat amanah, juga memotivasi putranya untuk menunaikan shalat dan meminta beliau menepati penunaian ibadah tersebut. Selain pengasuhan ibunya, beliau diawasi dan dibimbing pula oleh pamannya (dari pihak ayah).

 

PERKEMBANGAN KEILMUAN

Ketika Syaikh Rabi’ berusia delapan tahun, beliau masuk sekolah yang ada di desanya. Di sekolah tersebut beliau belajar membaca dan menulis. Termasuk guru yang membimbing beliau dalam belajar menulis adalah Asy-Syaikh Syaiban Al-‘Uraisyi, Al-Qadli Ahmad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali dan dari seseorang yang bernama Muhammad bin Husain Makki yang berasal dari kota Shibya’. Syaikh Rabi’ mempelajari Al Qur`an di bawah bimbingan Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali disamping belajar ilmu tauhid dan tajwid.

 

Setelah lulus, beliau melanjutkan studi ke Madrasah As-Salafiyyah di kota Shamithah. Termasuk guru beliau di madrasah tersebut adalah Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Faqih Nashir Khalufah Thayyasy Mubaraki rahimahullah, seorang alim kenamaan yang termasuk salah satu murid besar Asy-Syaikh Al-Qar’awi rahimahullah. Di bawah bimbingannya, Syaikh Rabi’ mempelajari kitab Bulughul Maram dan Nuzhatun Nadhar karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah Ta’ala.

 

Kemudian beliau belajar di Ma’had Al-‘Ilmi di Shamithah kepada sejumlah ulama terkemuka, yang paling terkenal adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Masyhur Hafidh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah Ta’ala dan saudaranya Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Hakami, juga kepada Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidhahullah. Di ma’had tersebut beliau belajar akidah kepada Asy-Syaikh Al-’Allamah Doktor Muhammad Amman bin ‘Ali Al-Jami. Demikian pula kepada Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad Shaghir Khamisi, beliau mempelajari ilmu fikih dengan kitab Zaadul Mustaqni’ dan kepada beberapa orang lagi selain mereka, di mana Syaikh mempelajari ilmu bahasa Arab, adab, ilmu Balaghah dan ilmu ‘Arudl (cabang-cabang ilmu bahasa Arab-pent.)

 

Tahun 1380 H seusai ujian penentuan akhir, beliau lulus dari Ma’had Al-‘Ilmi di kota Shamithah dan di awal tahun 1381 H beliau masuk ke Fakultas Syari’ah di Riyadl selama beberapa waktu lamanya, sekitar satu bulan, satu setengah atau dua bulan saja. Ketika Universitas Islam Madinah berdiri, beliau pindah ke sana dan bergabung di Fakultas Syari’ah. Beliau belajar di Universitas tersebut selama empat tahun dan lulus darinya pada tahun 1384 H dengan predikat cumlaude.

 

Diantara guru-guru beliau di Universitas Islam Madinah adalah:

  • Mufti besar Kerajaan Arab Saudi, Samahatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah Ta’ala, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari Aqidah Thahawiyah.
  • Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani, mempelajari bidang ilmu hadits dan sanad.
  • Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, mempelajari ilmu fikih tiga tahun lamanya dengan kitab Bidayatul Mujtahid.
  • Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Al-Hafidh Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Ushuli An-Nahwi wal Lughawi Al-Faqih Al-Bari’ Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, penulis tafsir Adlwaul Bayan, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari ilmu tafsir dan ushul fikih selama empat tahun.
  • Asy-Syaikh Shalih Al-‘Iraqi, belajar akidah.
  • Asy-Syaikh Al-Muhaddits ‘Abdul Ghafar Hasan Al-Hindi, belajar ilmu hadits dan mushthalah.

Setelah lulus, beliau menjadi dosen di almamater beliau di Universitas Islam Madinah selama beberapa waktu, kemudian beliau melanjutkan studi ke tingkat pasca sarjana dan berhasil meraih gelar master di bidang ilmu hadits dari Universitas Al-Malik ‘Abdul ‘Aziz cabang Mekkah pada tahun 1397 H dengan disertasi beliau yang terkenal, berjudul Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni. Pada tahun 1400 H beliau berhasil menyelesaikan program doktornya di Universitas yang sama, dengan predikat cum laude setelah beliau menyelesaikan tahqiq (penelitian, komentar –pent.) atas kitab An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala.

 

Syaikh Rabi’ kemudian kembali ke Universitas Islam Madinah dan menjadi dosen di Fakultas Hadits. Beliau mengajar ilmu hadits dengan segala bentuk dan cabangnya, serta berkali-kali menjadi ketua jurusan Qismus Sunnah pada program pasca sarjana dan sekarang beliau menjabat sebagai dosen tinggi. Semoga Allah menganugerahkan kepada beliau kenikmatan berupa kesehatan dan penjagaan dalam beramal kebaikan.

 

SIFAT DAN AKHLAK BELIAU

Syaikh Rabi’ hafidzahullah Ta’ala memiliki keistimewaan berupa sifat sangat rendah hati dihadapan saudara-saudaranya, murid-muridnya maupun kepada para tamunya. Beliau seorang yang sangat sederhana dalam hal tempat tinggal, pakaian maupun kendaraan, beliau tidak menyukai kemewahan dalam semua urusan ini.

 

Beliau adalah seorang yang selalu ceria, berseri-seri wajahnya dan sangat ramah, membuat teman duduk beliau tidak merasa bosan dengan kata-kata beliau. Majelis beliau senantiasa dipenuhi dengan pembacaan hadits dan Sunnah serta tahdzir (peringatan-pent.) dari kebid’ahan dan para pelakunya, sehingga orang yang belum mengenal beliau akan menyangka bahwa tidak ada lagi kesibukan beliau selain hal tersebut.

 

Syaikh Rabi’ sangat mencintai salafiyyin penuntut ilmu, beliau menghormati dan memuliakan mereka. Beliau berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sesuai kemampuan beliau, baik dengan diri sendiri maupun dengan harta. Rumah beliau selalu terbuka untuk para penuntut ilmu, sampai-sampai hampir tidak pernah beliau menyantap sarapan pagi makan siang maupun makan malam sendirian, karena selalu saja ada pelajar yang mengunjungi beliau. Beliau menanyakan keadaan mereka dan membantu mereka.

 

Syaikh Rabi’ termasuk ulama yang sangat bersemangat menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta akidah salaf, penuh semangat dalam mendakwahkannya dan beliau adalah pedang Sunnah dan akidah salaf yang amat tajam, yang amat sedikit bandingannya di masa sekarang. Beliau adalah pembela Sunnah dan kehormatan salafus salih di jaman kita ini, siang dan malam, secara rahasia maupun terang-terangan yang tidak terpengaruh oleh celaan orang-orang yang suka mencela.

 

KARYA-KARYA BELIAU

Syaikh Rabi’ memiliki sejumlah karya tulis -Alhamdulillah – beliau hafidzahullah telah membicarakan berbagai bab yang sangat dibutuhkan secara proporsional, terlebih khusus lagi dalam membantah para pelaku bid’ah dan para pengikut hawa nafsu di jaman yang penuh dengan para perusak namun sedikit orang yang berbuat ishlah (perbaikan, pent.) Diantara karya beliau :

  1. Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni, sejilid besar dan ini merupakan thesis beliau untuk meraih gelar master.
  2. An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, telah dicetak dalam dua juz dan ini merupakan disertasi program doktoral beliau.
  3. Tahqiq Kitab Al- Madkhal ila Ash-Shahih lil Hakim, juz pertama telah dicetak.
  4. Tahqiq Kitab At-Tawasul wal Wasilah lil Imam Ibni Taimiyyah, dalam satu jilid.
  5. Manhajul Anbiya` fid Da’wah ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql.
  6. Manhaj Ahlis Sunnah fii Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.
  7. Taqsimul Hadits ila Shahih wa Hasan wa Dla’if baina Waqi’il Muhadditsin wa Mughalithatil Muta’ashibin, sebuah bantahan terhadap ‘Abdul Fatah Abu Ghuddah dan Muhammad ‘Awamah.
  8. Kasyfu Mauqifi Al-Ghazali minas Sunnah wa Ahliha.
  9. Shaddu ‘Udwanil Mulhidin wa hukmul Isti’anah bi ghairil Muslimin.
  10. Makanatu Ahlil Hadits.
  11. Manhajul Imam Muslim fii Tartibi Shahihihi.
  12. Ahlul Hadits Hum Ath-Thaifah Al-Manshurah An-Najiyah hiwar ma’a Salman Al-‘Audah
  13. Mudzakarah fil Hadits An-Nabawi.
  14. Adlwa` Islamiyyah ‘ala ‘Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi.
  15. Matha’inu Sayyid Quthb fii Ashhabi Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  16. Al-‘Awashim mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim.
  17. Al-Haddul Fashil bainal Haq wal Bathil hiwar ma’a Bakr Abi Zaid.
  18. Mujazafaatul Hiddaad.
  19. Al-Mahajjatul Baidla` fii Himaayatis Sunnah Al-Gharra`.
  20. Jamaa’ah Waahidah Laa Jamaa’aat wa Shiraathun Wahidun Laa ‘Asyaraat, hiwar ma’a ‘Abdirrahman ‘Abdil Khaliq.
  21. An-Nashrul Aziiz ‘ala Ar-Raddil Wajiiz.
  22. At-Ta’ashshub Adz-Dzamim wa Aatsaruhu, yang dikumpulkan oleh Salim Al-‘Ajmi.
  23. Bayaanul Fasaadil Mi’yar, Hiwar ma’a Hizbi Mustatir.
  24. At-Tankiil bimaa fii Taudhihil Milyibaari minal Abaathiil.
  25. Dahdlu Abaathiil Musa Ad-Duwaisy.
  26. Izhaaqu Abaathiil ‘Abdil Lathif Basymiil.
  27. Inqidladlusy Syihb As-Salafiyyah ‘ala Aukaar ‘Adnan Al-Khalafiyyah.
  28. An-Nashihah Hiyal Mas`uliyyah Al-Musytarakah fil ‘Amal Ad-Da’wi, diterbitkan di majalah At-Tau’iyyah Al-Islamiyyah
  29. Al-Kitab was Sunnah Atsaruhuma wa makaanatuhuma wadl Dlarurah ilaihima fii Iqaamatit Ta’liimi fii Madaarisinaa, artikel majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyyah, edisi 16.
  30. 30. Hukmul Islam fii man Sabba Rasulallah au Tha’ana fii Syumuli Risaalatihi, artikel koran Al-Qabas Al-Kuwaitiyyah edisi 8576 tahun 9/5/1997.

Syaikh Rabi’ memiliki karya tulis lain di luar apa yang telah disebutkan di sini. Kita memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan-Nya untuk menyempurnakan usaha-usaha kebaikan yang beliau lakukan dan semoga Allah memberikan taufik kepada beliau kepada perkara-perkara yang dicintai dan diridlai-Nya, Dia-lah penolong semua itu dan maha mampu atasnya.

 

Dinukil dari Mauqi’ Asy-Syaikh Rabi’ hafidzahullah dengan sedikit perubahan

 

Dikutip dari terjemah buku karya Syaikh Abu ‘Abdillah Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi edisi Bahasa Indonesia Mengenal Lebih Dekat Asy Syaikh Rabi’ Bin Haadi al Madkhali Sosok Ulama Pembela Sunnah Nabi Diterjemahkan Ummu Affan, penerbit Media Ahlus Sunnah, Purwokerto

 

Judul Asli:”Biografi Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali”

 

Resource: http://ghuroba.blogsome.com/2008/01/12/syaikh-rabi-bin-hadi-umair-al-madkhali/

Source: www.salafy.or.id

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qa`idah Al-Hamdani Al-Wadi’i dari qabilah Alu Rasyid rahimahullah.

Asy-Syaikh Muqbil dan Sikap Beliau Terhdap Terorisme

 

Redaksi www.merekaadalahteroris.com

 

Mengingat ada rilis di sekian media massa terkait isi dari laptop Noordin Top, yang disana ada surat Syaefudin Zuhri yang mengatakan : “Teman-teman Indonesia tidak ada yang memahami pergerakan Udin ini karena sudah antipati dan menuduh Udin ikut gerakan salafi mukbil,” tulisnya dalam surat.” (JP 30/09) Jelas tertulis Udin hanya dituduh ikut gerakan salafi mukbil, namun kenyataannya ternyata tidak. Maka Pustaka Qaulan Sadida yang para penulisnya adalah murid syaikh Muqbil Bin Hadi al Wadi’i, maka perkenankan kami mengirimkan pers rilis terkait siapa beliau sebenarnya. Silakan menyimak.

 

Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di negeri Yaman – bahkan di dunia Islam secara umum – tidak bisa dilepas dari sosok besar Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah. Beliau lah yang kembali berhasil melakukan tajdid (pembaharuan) Dakwah Salafiyyah di Yaman pada abad ini. Semenjak masa Al-Imam ‘Abdurrazzaq bin Hammam Ash-Shan’ani rahimahullah tidaklah Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Yaman tersebar sebagaimana tersebarnya pada masa Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah.

 

Beliau adalah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qa`idah Al-Hamdani Al-Wadi’i dari qabilah Alu Rasyid rahimahullah. Beliau adalah duri bagi para pengusung kebatilan, baik dari kalangan Syi’ah Rafidhah, Khawarij, Teroris, Liberalis, Komunis, Shufiyyah, dan kelompok-kelompok sesat lainnya.

 

Beliau adalah sosok yang dikenal dengan kejujuran, keikhlasan, ‘iffah (menjaga kehormatan dan harga diri), kesabaran, zuhd dalam kehidupan dunia, berjalan di atas aqidah yang benar dan manhaj salafi yang lurus, sikap bijak, santun, lembut, keberanian, serta tampil menyerukan kebenaran. Sungguh sosok beliau mengingatkan dengan sosok para ‘ulama salafush shalih, terutama sosok Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

 

Sepulang beliau dari belajar di negeri Tauhid dan Sunnah Kerajaan Saudi ‘Arabia, beliau mulia merintis taklim dan dakwah di negeri Yaman. Maka Allah ‘Azza wa Jalla membukakan pintu kemenangan dan keberhasilan bagi beliau dalam wujud yang sangat besar. Dengan diiringi dan dibantu oleh teman sepejuangan beliau sekaligus murid besar beliau, Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi hafizhahullah, berdirilah Pondok Pesantren beliau di desa Dammaj – Sha’dah Yaman, yang diberi nama Ma’had Darul Hadits. Sungguh Allah barakahi dakwah dan perjuangan beliau. Pesantren beliau menjadi pesantren yang sarat dengan ilmu. Berbagai disiplin ilmu agama diajarkan di sana. Dengan dilandasi keikhlasan niat, kesungguhan, kasih sayang, akhlaq mulia, kesantunan, jauh dari sikap brutal dan ekstrim. Para murid berdatangan dari seantero dunia Islam dari seluruh penjuru dunia. Kalau dulu dikatakan bahwa tidak ada seorang ‘ulama yang paling banyak didatangi oleh para Ahli Hadits dari berbagai penjuru negeri seperti Al-Imam ‘Abdurrazzaq Ash-Shan’ani rahimahullah. Maka pada masa ini, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa tidak ada seorang ‘ulama yang paling banyak didatangi oleh para penuntut ilmu dari berbagai penjuru negeri seperti Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah.

 

Jerih payah upaya dakwah beliau – tentunya setelah pertolongan dan taufiq dari Allah ‘Azza wa Jalla – benar-benar membuahkan hasil yang sangat indah di negeri Yaman dan dunia Islam pada umumnya. Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjadi dikenal, dihormati, dan diterima serta diikuti oleh umat.

 

Beliau berhasil melahirkan tokoh-tokoh yang menjadi ‘ulama besar Ahlus Sunnah di Yaman. Mereka kini juga mendirikan pondok-pondok pesantren yang juga memiliki banyak murid. Di antaranya, di kota Al-Hudaidah ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab Al-Wushabi, di Ma’bar ada ma’hadnya Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam, di Mafraqhubaisy ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al-Bura’i, di Shan’a ada Asy-Syaikh Muhammad Ash-Shaumali, di Hadhramaut ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Mar’i, di ‘Aden ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman Mar’i, demikian juga di desa Dzamar ada ma’hadnya Asy-Syaikh ‘Abdullah Adz-Dzamiri, dan lainnya, semuanya adalah para murid besar Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah.

 

Beliau juga meninggalkan karya-karya tulis yang sangat banyak. Mayoritasnya dalam bidang ilmu hadits. Beliau sangat perhatian terhadap seleksi hadits, mana yang shahih mana yang bukan. Dan memang beliau termasuk salah seorang ‘ulama ahlul hadits abad ini. Karya-karya besar beliau mayoritasnya beliau tulis dengan metode para ‘ulama ahlul hadits. Karya-karya tersebut menjadi rujukan penting kaum muslimin sekaligus termasuk khazanah keilmuan yang sangat penting.

 

Prinsip Dakwah Asy-Syaikh Muqbil

Dakwah yang beliau kibarkan adalah Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu dakwah berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas metode pemahaman dan pengamalan para salafush shalih (para shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in).

 

Beliau menegaskan, bahwa Pendiri Dakwah Salafiyyah yang beliau kibarkan di Yaman tidak lain adalah Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena memang Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah dakwah yang murni seratus persen mengikuti dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghidupkan sunnah-sunnah dan ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi Dakwah Salafiyyah bukan dakwah milik perorangan atau pun kelompok atau bangsa tertentu. Bukan dakwah yang baru-baru muncul, bukan pula organisasi atau pergerakan tertentu yang didirikan oleh orang tertentu.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang prinsip dan jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah :

ما أنا عليه اليوم وأصحابي

Yaitu jalan yang aku (Rasulullah) dan para shahabatku berada di atasnya pada hari ini.

 

Dakwah Asy-Syaikh Muqbil ditegakkan di atas ilmu, kasih sayang, akhlaq, kelembutan, dan hikmah (menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya sesuai bimbingan ilmu), jauh dari sikap brutal, reaksioner, kekerasan versi para khawarij-teroris, syi’ah rafidhah, jauh pula dari sikap mengentengkan kalangan shufiyyah, liberalis, dan semisalnya.

 

Semangat Beliau dalam Berpegang dengan As-Sunnah

Beliau termasuk orang yang antusias untuk bepegang dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan sebutan beliau. Sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Sesungguhnya Allah memuliakan seseorang sesuai dengan kadar berpegang teguhnya dia dengan As-Sunnah.”

 

Di antara ucapan yang sering beliau katakan ialah : “Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan kita tinggalkan meskipun kita harus menggigitnya dengan gigi kita.”

 

Sikap Beliau terhadap Pemahaman Salafush Shalih

Beliau rahimahullah mengatakan: “Kita beribadah kepada Allah dengan pemahaman salafush shalih yang sesuai dengan dalil. Dan kita katakan: Sesungguhnya mereka telah mendahului kita dalam setiap kebaikan. Apalagi sudah jelas sanjungan terhadap mereka, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (At-Taubah: 100)

 

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” [1] Dalam hadits ini terdapat isyarat bahwasanya harus mengambil sesuai dengan pemahaman mereka.

 

Sikap Bijak Beliau

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah adalah seorang yang bijak dalam berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah di tengah-tengah masyarakat dan kaumnya, beliau bukanlah sosok yang kasar dan brutal. Sebab beliau tahu bahwa dakwah ini bukan ditegakkan di atas tindakan revolusioner dan pemberontakan. Cara seperti itu (revolusioner dan pemberontakan) sudah dilakukan sebagian kelompok, yang akhirnya justru menimbulkan kejelekan; memecah belah persatuan kaum muslimin serta menjadikan tercorengnya citra Islam dan kaum muslimin di mata penduduk dunia.[2]

 

Padahal dakwah ini dibangun di atas dasar hikmah dan nasehat yang baik, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

 

Beliaupun selalu menganjurkan agar bertahap dalam memberikan pelajaran dan dakwah, agar jangan sampai ada yang bersemangat tapi tidak mempunyai hikmah dan ilmu. Di antara anjuran beliau, hendaknya seorang penuntut ilmu ketika kembali ke kampung halamannya jangan kemudian shalat dengan memakai sandal di dalam masjid. Karena orang di sekitarnya tentu akan menganggapnya sebagai kemungkaran dan akan memicu fitnah. Sedangkan shalat dengan sandal adalah sunnah, bukan wajib.

 

Sikap Santun dan Kehati-hatian Beliau

Beliau betul-betul berhati-hati dan tenang dalam menghadapi persoalan. Betapa sering beliau berupaya memperbaiki satu permasalahan dan bersabar menghadapi para penentangnya, dengan harapan mudah-mudahan suatu ketika dia menjadi baik. Namun kalau tidak bermanfaat juga, beliau bangkit menerangkan kepada masyarakat tentang kejelekannya dan membongkar syubhat-syubhatnya serta membantah hujjah-hujjah mereka yang lemah.

 

Beliau sering ditanya tentang satu masalah dan selalu mengatakan: “Wallahu a’lam.” Betapa sering beliau ditanya tentang seorang tokoh, namun beliau mengatakan: “Saya menahan bicara tentang dia.” Dan beliau diam selama beberapa tahun sampai sangat jelas keadaan orang tersebut. Lantas apakah ada keburukan dalam kata-kata beliau sesudah itu? Sesungguhnya demi Allah, di kalangan mereka yang jujur dan adil, inilah yang dinamakan tatsabbut (teliti). Namun memang kebaikan itu tidak mungkin bisa melenyapkan celaan.

 

Kebencian Beliau yang Sangat Besar terhadap Terorisme

Beliau sangat membenci gangguan keamanan dan munculnya kegelisahan serta rasa takut pada kaum muslimin.

 

Tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

 

“Saya diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan syahadat bahwa tidak ada berhak diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad itu adalah Rasul Allah, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, maka terjagalah dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka di sisi Allah.” Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjelaskan : “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap kelompok-kelompok (sesat) yang ada sekarang ini, seperti Jama’atut Takfiir (kelompok yang selalu mengkafirkan orang lain yang tidak segolongan dengannya) yang menganggap halal darah kaum muslimin. Juga Jama’atul Jihad (kelompok yang mengaku mujahidin, padahal teror) yang juga menganggap halal darah kaum muslimin. Anggaplah bahwa pemerintah itu kafir dan rakyatnya muslim, tentu akan terjadi bencana di atas kepala rakyat muslim yang pantas dikasihani ini.

 

Demikian pula bantahan terhadap para tokoh revolusioner, yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan tindakan revolusi, pemberontakan (dan sejenisnya).”

 

Dan ketika beliau ditanya tentang para turis, apakah mereka terhitung mu’ahad? [3]

 

Beliau menjawab : “Di antara mereka ada yang datang untuk merusak di negeri kaum muslimin, ada pula yang menjadi mata-mata. Akan tetapi melampaui batas (yakni dengan menyerang) terhadap mereka justru hanya menimbulkan kekacauan. Saya tidak menganjurkan hal ini (menyerang mereka -ed). Demikian pula halnya semua yang dapat menimbulkan kekacauan, tidak boleh.

 

Membunuh para wisatawan asing adalah suatu kesalahan. Kami tidak tahu kecuali akibatnya yang satu menyerang yang lain. Akhirnya dakwah terbengkalai, begitu juga dengan pendidikan, pertanian dan perdagangan. Namun perlu diingat pula bahwa ini bukan berarti kami ridha dengan (kedatangan) mereka.”

 

Inilah sikap kaum mukminin. Mereka tidak ingin menimbulkan gangguan keamanan. Berbeda dengan orang-orang munafik, mereka sangat antusias terhadap hal-hal seperti ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لاَ يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (Al-Ahzab: 60)

 

Meresahkan kaum muslimin adalah haram secara syar’i. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya (2/720) dan Ahmad dalam Musnad-nya (5/362) dari Abdurrahman bin Abi Laila:

قَالَ: حَدَّثَنَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Katanya: Para shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepadaku, bahwa beliau (Nabi) bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengagetkan dan membuat takut muslim lainnya.” Hadits ini shahih, Asy-Syaikh Muqbil menyebutkannya dalam karya beliau Ash-Shahihul Musnad mimma Laisa fish Shahihain (2/418).

 

Sikap Beliau terhadap Usamah bin Laden

Terhadap salah satu tokoh teroris international nomor wahid ini, Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan : “Aku berlepas diri di hadapan Allah dari (kesesatan) Usamah bin Laden. Dia merupakan kejahatan dan musibah terhadap umat ini, dan aktivitasnya adalah aktivitas kejahatan.”

 

Beliau juga berkata : “Kami semua berlepas diri darinya dan aktivitas-aktivitasnya sejak jauh sebelum ini. Realita menyaksikan bahwa kaum muslimin yang hidup di negeri-negeri Barat tertekan dengan sebab adanya gerakan-gerakan yang diperankan oleh kelompok Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok lainnya. Wallahul Musta’an.” (dari surat kabar Ar-Ra`yul ‘Am Kuwait tanggal 19 Desember 1998).

 

Dalam kitab Tuhfatul Mujib, transkrip ceramah beliau berjudul Di Balik Peristiwa Peledakan-Peledakan di bumi Al-Haramain, Asy-Syaikh Muqbil berkata : “Di antara contoh-contoh fitnah (yang menimpa kaum muslimin) adalah fitnah yang sudah hampir menguasai negeri Yaman yang dihembuskan oleh Usamah bin Laden … .”

 

” … untuk menjelaskan kepada umat bahwa urusan agama ini tidak boleh diambil dari orang semisal Usamah bin Laden, Al-Mis’ari, atau yang semisalnya. Tapi urusan agama ini harus diambil dari kalangan ‘ulama … Bahkan sesungguhnya umat ini masih sangat membutuhkan seribu ‘ulama semisal Asy-Syaikh bin Baz, dan seribu ‘ulama lain semisal Asy-Syaikh Al-Albani.”

 

Rahmah dan Kasih Sayang Beliau

Beliau menyayangi semuanya, tua muda, laki-laki dan perempuan. Bahkan anak-anak kecil sangat menyukai beliau karena kedudukan dan kebaikan beliau terhadap mereka. Beliau pantas dikatakan demikian, tanpa harus berlebihan. Boleh dikatakan bahwa beliau termasuk orang yang paling penyayang terhadap sesamanya di zaman ini. Terutama terhadap para penuntut ilmu, di mana beliau memandang mereka sebagai anak-anaknya sendiri.

 

Beliau sering juga merasakan kesulitan bila terjadi kekurangan dari kebutuhan para penuntut ilmu. Bahkan beliau pernah mengatakan bahwasanya dia tidak pernah menemukan kesulitan yang lebih berat dirasakannya daripada hal ini.

 

Beliau sering manfaatkan waktu untuk duduk bersama orang banyak dengan memberikan nasehat, pengarahan, faedah, dan diskusi. Sehingga hampir tidak ada yang keluar dari majelis itu melainkan sudah mendapatkan faedah.

 

Nasehat-nasehatnya sangat disenangi, dan beliau memilih yang sesuai dengan pemahaman mereka tanpa membosankan. Dan kalimat-kalimat yang ringkas tidak akan membosankan siapapun.

 

Di antara sifat rahmatnya, beliau mengirim para da’i yang mengajak ke jalan Allah ke seluruh daerah di Yaman bahkan juga ke luar Yaman untuk menyebarkan dien Allah, mengajari manusia kebaikan dan mentahdzir mereka dari kejahatan.

 

Dari sifat rahmatnya, beliau selalu menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu di hati murid-muridnya. Beliau selalu menyebutkan keadaan yang dialami salafus shalih, berupa kesabaran menempuh kesulitan dalam mencari ilmu.

 

Wafatnya Beliau

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah Awal 1 Jumadil Awal tahun 1422 H, bertepatan dengan 22 Juli 2001 M, setelah Isya’ di Saudi Arabia. Beliau dishalatkan setelah shubuh, kemudian dimakamkan di pekuburan Al ‘Adl dekat makam Asy-Syaikh Ibnu Baz dan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahumullahu. Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Muqbil dan menempatkannya di jannah-Nya yang tertinggi. Serta menjadikan segala jerih payah dan amal usaha beliau termasuk timbangan amal shalih beliau di sisi-Nya. Amin

 

Footnote :

[1] HSR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu. [2] Tindakan revolusioner dan pemberontakan ini sudah pernah dicoba oleh sebagian aktivis dakwah. Namun hasilnya justru menyebabkan Islam menjadi sasaran tuduhan sebagai agama teroris dan kekerasan. Wallahul musta’an. [3] Orang kafir yang terikat perjanjian dengan negara muslimin.

 

Judul Asli: “Mengenal Lebih Dekat Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i”

%d blogger menyukai ini: