Beranda > Aqidah Islam > DALIL-DALIL DARI SUNNAH TENTANG KEWAJIBAN TAAT KEPADA RASUL SHALLALAHU ALAIHI WA AALIHI WASALLAM

DALIL-DALIL DARI SUNNAH TENTANG KEWAJIBAN TAAT KEPADA RASUL SHALLALAHU ALAIHI WA AALIHI WASALLAM

01/03/2011

Ditulis oleh Syaikh Abdullah Al-Bukhari

 

Dan ini sangat banyak pula, diantaranya yang dikeluarkan Bukhari dalam shahihnya (1/631/111,al-fath) bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى

“shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Diriwayatkan Muslim dalam shahihnya (2/310/1297/943) bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam bersabda:

« لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى لاَ أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ »

“hendaklah kalian mengambil dariku cara menunaikan ibadah haji kalian,karena sesungguhnya aku tidak tahu jangan sampai aku tidak lagi menunaikan ibadah haji setelah ini.”

“laam” pada awal kalimat adalam menunjukkan perintah, maknanya: hendaknya kalian mengambil dariku manasik haji kalian.

Dikeluarkan Bukahri dalam shahihnya (13/7280/249.al-fath) dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam bersabda:

« كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى »

“setiap umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.”

Para sahabat bertanya: siapakah yang enggan wahai Rasulullah? Maksudnya bahwa ini hal yang tidak masuk akal ,siapa orang yang enggan dan tidak menginginkan neraka? Maka jawab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam:

« مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »

“siapa yang taat kepadaku maka dia masuk surga,dan siapa yang menyelisihiku maka dialah yang enggan (masuk surga).”

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajr dalam fathu bari (13/254):

“Yang disifati enggan adalah yang mencegah diri,jika dia kafir maka dia sama sekali tidak akan masuk surga,namun jika dia muslim maka yang dimaksud adalah dia tercegah untuk masuk kedalamnya bersama orang-orang yang masuk pertama kecuali yang dikehendaki Allah Ta’ala.”

Berkata Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hibban Al-Busti rahimahullah dalam Shahihnya (1/197,bersama al-ihsan) : “ta’at kepada rasul adalah tunduk terhadap sunnahnya…”

Hingga beliau berkata: “bersama dengan menolak semua ucapan orang yang berkata sesuatu didalam agama Allah Azza wajalla yang menyelisihi sunnahnya, tanpa berusaha mencari jalan untuk menolak sunnah dengan berbagai macam ta’wil yang dipaksakan dan alasan-alasan baru dalam penolakannya.”

Diriwayatkan pula dari Irbadh bin Sariyah radhiallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam memberi nasehat kepada kami berupa nasehat yang sangat berharga,yang menggetarkan hati-hati kami dan membuat kami menangis, kamipun berkata: wahai Rasulullah, seakan-akan merupakan nasehat orang yang hendak berpisah,berilah kami wasiat!, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam bersabda:

« أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ »

“aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah Azza wajalla,mendengar dan taat, meskipun seorang budak habsyi.KArena sesungguhnya siapa diantara kalian yang hidupnya lebih lama,maka dia akan melihat perselisihan yang banyak,maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-rasyidin yang diberi petunjuk,berpegang teguhlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian,dan jauhi segala urusan yang diada-adakan, karena setiap perkara baru (dalam agam,pen) itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”

Dikeluarkan oleh Abu Dawud (5/4607),Tirmidzi (5/2676,dan berkata: hadits ini hasan shahih), Ibnu Majah (1/43-44),dan selainnya,dan ini hadits yang shahih.[1]

Nabi Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam telah menggambarkan dalam hadits yang agung ini dan nasehat yang sangat berharga ini dua prinsip pokok yaitu:

1- Ittiba’ (mengikuti Rasul Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam)

2- Meninggalkan bid’ah

Bagi yang memperhatikan biografi para pendahulu umat ini dari kalangan para sahabat –semoga Allah meridhai mereka semua– dia kan mendapati bahwa mereka sungguh telah berjalan diatas wasiat yang memuat yang termasuk didalamnya dan mengeluarkan yang tidak termasuk darinya,[2] mereka memegang perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dengan penuh perhatian dan penerapan,disertai dengan sikap ridha dan berserah diri,mereka tunduk dan berserah diri kepada Allah Rabb seluruh alam.

(haqqun nabi,Syaikh Abdullah Al-Bukhari: 26-29)

Alih bahasa: Abu Karimah Askari bin Jamal


[1] Dishahihkan Ibnu Hibban dengan dikeluarkannya dalam shahihnya (1/5), berkata Al-Hafizh Abu Nu’aim: ini hadits yang bagus dari shahih haditsnya penduduk Syam (dinukil dari jam’ul ulum wal hikam,Ibnu Rajab:2/109, dan dishahihkan Al-Albani, lihat al-misykah (1/165/58).

[2] Lihat jami’ul ulum wal hikam: 2/116,cetakan ar-risalah.

****

DALIL-DALIL AL-QUR’AN TENTANG KEWAJIBAN TA’AT KEPADA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

Berkata Imam yang mulia imam Ahlus sunnah Imam Ahmad rahimahullah:

نظرت في المصحف فوجدت طاعة الرسول صلى الله عليه وآله وسلم في ثلاثة وثلاثين موضعا

“Aku melihat mushaf, maka aku mendapati (perintah) ta’at kepada Rasul Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam terdapat di 33 tempat.”[1],yaitu dalam al-qur’an.

 

Diantaranya adalah firman Allah:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“barangsiapa yang taat kepada rasul maka sungguh dia telah taat kepada Allah.”

(QS.An-nisaa:80)

 

Dan firman-Nya:

وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Taatlah kalian kepada rasul semoga kalian dirahmati.”

(QS.An-Nuur:56)

 

Dan firman-Nya Jalla wa’alaa:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling Maka Sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”.

(QS.An-Nuur:54)

 

Dan Allah Azza wajalla berfirman:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.

(QS.Ali Imran:32)

 

Dan ayat-ayat yang masih banyak lagi dari kitabullah Azza wajalla.

Dan telah datang pula perintah dari Allah Azza wajalla untuk mengikuti RAsul-Nya Shallallahu alaihi wasallam berupa perintah untuk menjadikannya sebagai suri tauladan dalam banyak tempat (dalam al-qur’an).

Allah Azza wajalla berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS.Ali Imran:31)

 

Dan Allah Azza wajalla juga berfirman:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.

(QS.Al-A’raf:158)

Maka kebaikan itu –wahai para pembaca yang kami cintai- setiap kebaikan adalah dengan mengikutinya, dan berhukum dengan syari’at dan sunnahnya, dan kejahatan setiap kejahatan adalah menyelisihi petunjuknya,dan berpaling dari sunnahnya Shallallahu alaihi wa aalihi wasallam.

 

(haqqun nabi, Syaikh Abdullah Al-Bukhari)

Alih bahasa: Abu Karimah Askari bin Jamal


[1] Dinukil Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah dalam “Ash-sharim al-maslul”,hal:56.

 

–> www.salafybpp.com