Beranda > Fiqh, Ibadah, Islam, Manhaj, Sunnah, Umum > Menjawab Salam kepada Penitip dan Pengantar Salam

Menjawab Salam kepada Penitip dan Pengantar Salam

24/01/2011

Haifa binti Abdullah ar-Rasyid

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan: “Disunnahkan untuk menjawab salam kepada orang yang menyampaikan salam”[1]

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan: “Diantara tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mendapat ucapan salam dari seseorang melalui orang lain adalah menjawab salam kepada orang yang mengantarkan salam tersebut dan kepada orang yang menitipkannya”[2]

Hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Imam Ahmad, dan an-Nasa’I rahimahumullahu dalam al-Kubraa nya, yang menyebutkan:

“Apa yang harus diucapkan ketika ada seseorang yang mengatakan kepadanya: ‘Sesungguh Fulan mengucapkan salam kepadanya’”[3]

Juga, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari seorang laki-laki Bani Tamim –dari ayahnya, dari kakeknya, bahwasanya dia pernah menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam kepada engkau.” Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “’Alaika wa ‘alaa abiikas salaam” (Untukmu dan untuk ayahmu salam kembali). Dalam hadits ini terdapat perawi yang majhul , tetapi Syaikh al-Albani rahimahullah menghasankannya

Hal demikian juga disebutkan dalam riwayat perbuatan dua isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah radhiyallahu ‘anha dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang kemudian ditetapkan oleh beliau:

1)      Perbuatan Khadijah radhiyallahu ‘anha. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Jibril ‘alaihis salam menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang ditemani Khadijah radhiyallahu ‘anha; Jibril ‘alaihis salam berkata: ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan salam kepada Khadijah radhiyallahu ‘anha’, Khadijah berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu as-Salaam dan salam untuk Jibril ‘alaihis salam; salam dan rahmat Allah Ta’ala (semoga terlimpah)untukmu.’”[4]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Dari hadits tersebut terdapat faedah agar seseorang menjawab salam kepada orang yang mengantarkan salam dan kepada orang yang menitipkan salam kepadanya“[5]

2)      Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata kepadanya:

“Hai ‘Aisyah, ini Jibril ‘alaihis salam, dia menyampaikan salam kepadamu” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: ‘Salam juga untuknya, serta rahmat dan keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga terlimpah kepadanya. Engkau dapat melihat hal-hal yang tidak bias aku lihat-yang dimaksud oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam[6]

Akan tetapi, dalam kitab al-Musnad karya Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah terdapat redaksi tambahan , yakni dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di berkata:

“Aku menjawab: ‘Salam untuk engkau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) serta (semoga) salam , rahmat, dan keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya (Jibril ‘alaihis salam)’”[7]

Al-‘Allama al-Albani rahimahullah dalam catatan kaki kitabnya Shahiihul Adabul al-Mufrad, mengatakan: “sanad hadits ini shahih, dan tambahan dalam hadits ini sangat penting” [8]

Disalin dari: buku “Menghidupkan Sunnah-Sunnah yang Terlupakan” oleh: Haifa biti Abdullah ar-Rasyid. Pustaka Imam Syafi’i

Sumber Artikel: ibnuabbaskendari.wordpress.com

Catatan Kaki:


[1] Fathul Baari XI/41

[2] Zaadul Ma’aad II/427

[3] HR. Abu Dawud (no. 5231), Ahmad (no. 23104), dan an-Nasa’I dalam al-Kubra (no. 10133)

[4] HR. al-Hakim (IV/175), an-Nasa’I dalam al-Kubraa-nya (no. 10134), al-Bazzar (no. 1904), dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir-nya (XXIII/15,25, dan 26)

[5] Fathul Baari VII/172

[6] HR. Bukhari (no. 3217) dan Muslim (no. 2447)

[7] al-Musnad VI/117

[8] HR. Bukhari dalam Shahiihul Adabul al-Mufrad (no. 1007), Abu Dawud (no. 5208), at-Tirmidzi (no. 2706); dia berkata: “Hadits ini hasan”, Ahmad dalam al-Musnad (II/230), al-Humaidi dalam al-Musnad (no. 1162), Abu Ya’la (no. 6567), ath Thahawi dalam Masyikilul Aatsaar (no. 1350), Ibnu Hibban (no. 494), al-Baghawi (no. 3328), dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimaan (no. 8846)

***

%d blogger menyukai ini: