Beranda > Perpecahan Umat > HAL-HAL YANG MENYEBABKAN DAN MENAMBAH PERPECAHAN DAN HAL-HAL YANG MENYEBABKAN PERDAMAIAN

HAL-HAL YANG MENYEBABKAN DAN MENAMBAH PERPECAHAN DAN HAL-HAL YANG MENYEBABKAN PERDAMAIAN

26/03/2011

Oleh
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah

Pertanyaan.
Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily Hafidzohullah ditanya : Mohon Anda jelaskan contoh dari hal-hal yg menyebabkan dan menambah perpecahan dan hal-hal yg menyebabkan ishlah (perdamaian) !

Jawaban.
Hal-Hal Yang Menambah Perpecahan Adalah.

[a].Taashub (fanatik) yg tercela, yaitu fanatik sebagian orang terhadap golongan tertentu krn mengikuti hawa nafsu, baik itu krn fanatik tercela yg disebabkan oleh kafanatikan terhadap ras atau golongan atau kepentingan dunia atau krn benci pada pihak yg menyelisihinya, inilah fanatik yg menambah perpecahan.

[b].Oleh krn itulah, maka wajib atas penuntut ilmu untuk mengikhlaskan amalan semata-mata krn Allah dan tdk memandang manusia krn status dan kedudukan yg akhir dia mengukur kebenaran dgn figur/tokoh tertentu, padahal justru kebenaran itulah yg menjadi ukuran untuk menilai kedudukan seseorang. Semesti dia hrs membela kebenaran dan orang yg berada diatas meskipun orang itu kecil atau rendah derajatnya, dan semesti hrs pula dia mencegah orang dzalim dari kedzoliman walaupun mulia dan tinggi kedudukannya

[c].Menukil perkataan dan menyebarluaskannya. Menukil perkataan diantara manusia khusus dalam perselisihan merupakan hal yg menambah perpecahan, kalian tentu tahu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam membenci qilla wa qoola, banyak bertanya dan membuang-buang harta Qilla wa qoola ialah banyak menukil perkataan antar manusia: Kata Fulan begini, kata Fulan begitu, Fulan dikatakan begini, Fulan dikatakan begitu… sehingga diapun menyibukkan waktu-waktu dgn perkataan ini. Maka inilah diantara sebab yg paling besar yg menyebabkan keras hati, menimbulkan hasad, dengki, permusuhan antara ikhwah dan menambah perpecahan.

Maka kewajiban penuntut ilmu ialah menjaga lisannya, tdk memperbanyak menukil perkataan, tdk pula memperbanyak pembicaraan yg tdk ada manfaatnya, dan sikap dia ketika tersebar masalah ini diantara ikhwah ialah menjauhi dan mengatakan: Tidak layak kita disibukkan dgn hal ini tapi sibukkan diri kita dgn menuntut ilmu dan hal-hal yg bermanfaat, kecuali jika (menukil perkataan itu) ada maslahat untuk mendamaikan antara ikhwah, maka hal itu diperbolehkan.

[d]. Jahil (bodoh), yaitu bahwa sebagian mereka yg berselisih terkadang disebabkan oleh kejahilan, jahil terhadap yg haq atau jahil terhadap ahli haq. Jahil terhadap al-haq yaitu: tdk tahu dipihak mana kebenaran itu berada. Contoh jika ada 2 golongan berselisih dalam masalah ilmiyah, kemudian datang orang yg tdk mengetahui al-haq dalam masalah yg diperselisihkan ini, sehingga diapun membela yg bathil. Inilah yg dpt menambah perpecahan dan perselisihan. Atau bisa jadi krn jahil terhadap ahlul haq (orang-orang yg mengikuti al-haq). Maksudnya, bahwa seseorang yg berilmu tahu al-haq dan tahu dalil-dalilnya, tapi dia tdk tahu keadaan Fulan, dan ini kadang terjadi pada para penuntut ilmu disebabkan krn mereka tdk tdk tahu apa yg terjadi di Indonesia, maka jika ada salah seorang penuntut ilmu yg mengatakan: Kata Fulan begini kata Fulan begitu.. tentu seorang yg berilmu itu berbicara sesuai dgn berita yg disampaikan pada dia.

Maka sehrs bagi mereka yg menukil perselisihan antara manusia bersikap jujur dan terpercaya dalam menukil, tdk boleh dia menukil hal yg tdk pernah diperuntuk oleh orang tdk juga hal yg tdk pernah dikatakan oleh orang tersebut, tdk boleh pula dia mengambil konsekwensi perkataannya, hrslah dia menukil perselisihan itu sesuai dgn kenyataannya. Dan jahil (tdk mengetahui) terhadap ahlul-haq ini tdklah menjatuhkan derajat ulama, tdk pula merendahkan harkat mereka, krn mereka tdk tahu apa sebenar yg sekarang terjadi di Indonesia -misalnya-, kecuali dari nukilan (sebagian penuntut ilmu) negara ini. Mereka tdk tahu apa yg terjadi di negara tertentu , tapi datang sebagian penduduk dan menukil perkataan: Kata Fulan begini,kata Fulan begitu tentu orang alim itu berbicara sesuai dgn apa yg dia dengar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam : Sesungguh saya ha memutuskan sesuai dgn apa yg saya dengar

Seorang hakim dan mufti menghukumi sesuai dgn apa yg dia dengar, maka selayak jika kita menukil sebuah khilaf atau meminta fatwa, hendak kita menukil sesuai dgn kenyataan sehingga menghasilkan hukum yg benar, krn seorang alim bertugas untuk berijtihad dalam memutuskan suatu masalah ilmiyah tapi terkadang dia kurang tahu tentang keadaan manusia dan apa yg terjadi terhadap mereka, inilah sebagian dari sebab terjadi perselisihan.

Adapun Sebab-Sebab Perdamaian Adalah.

[a]. Niat yg jujur dan benar untuk mendamaikan, Allah berfirman tentang dua orang penengah yg mendamaikan suami-istri yg berselisih :

“Arti : Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kpd suami istri itu” [An-Nisaa : 35]

Kalau dalam masalah mendamaikan suami istri saja Allah menjanjikan taufiq untuk mereka berdua, apalagi orang yg berusaha untuk mendamaikan antara kaum muslimin, tdk diragukan lagi dia akan diberi taufik -insya Allah-, apabila terpenuhi pada niat jujur (benar), krn kejujuran niat itu mrpk salah satu sebab hilang perselisihan, sehingga diapun menjadi kunci kebaikan yg Allah mudahkan dgn terjadi perdamaian

[b]. Doa untuk kebaikan ikhwah, yaitu mendoakan saudara-saudara kita dgn mengikhlaskan niat dalam berdoa agar Allah mengangkat perselisihan, mendamaikan dan menyatukan hati mereka diatas kebaikan dan taqwa dan membimbing mereka dalam kebenaran

[c].Menasehati pihak yg salah, kita katakan pada dia: Anda bersalah, maka kembalilah kpd al-haq, tapi ini bagi orang yg mampu melakukannya, adapun orang yg tak mempunyai kemampuan untuk menasehati maka tak ada kewajiban baginya

[d]. Menasehati pihak yg benar, yaitu agar bersabar, kita katakan pada mereka: Bersabarlah dan tahan diri kamu terhadap teman-temanmu (yg bersalah) krn merekapun ahlus sunnah, dan perselisihan mereka dgn kamu bukan berarti pula mereka membencimu, bukan berarti mereka tdk menginginkan al-haq, tapi mereka salah. Para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun berselisih dalam banyak masalah, bahkan terjadi fitnah di zaman mereka, tapi setiap mereka mengatakan pada temannya: Kami tdk merasa lebih dari kalian dalam iman dan taqwa, Ali bin Abi Thalib radhiallaahu anhu ialah orang paling utama setelah kematian Utsman radhiallaahu anhu, beliau mengatakan: (Mereka) ialah saudara-saudara kita, kita tdk merasa melebihi mereka dalam iman dan taqwa padahal beliau ialah orang yg paling utama mudah-mudahan Allah meridhoinya-.

Demikian pula Muawiyah radhiallaahu anhu, beliaupun mengakui keutamaan Ali radhiallaahu anhu dan mengatakan: Kami tdk memerangi beliau dalam perkara ini (khilafah) dan mengakui keutamaan beliau, lihatlah !!! Bagaimana mereka berselisih dan menginginkan haq walaupun sudut pandang mereka berbeda dalam banyak masalah, tapi mereka tdk saling mencela satu sama lainnya, bahkan mereka mengakui bahwa saudara menginginkan al-haq dan berijtihad, inilah muamalah yg hrs dilakukan terhadap saudara-saudara kita.

[Diterjemahkan dari Nasehat Syaikh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hafidzohullah, dan risalah ini disusun oleh Abu Abdirrahman Abdullah Zaen dan Abu Bakr Anas Burhanuddin dkk Mahasiswa Universitas Islam Madinah]

Sumber : almanhaj.or.id

%d bloggers like this: